Jenderal TNI Gatot Nurmantyo berbicara di Gedung Pusat Majelis Tafsir Al-Quran (MTA), Jl. Ronggowarsito No. 111A, Kelurahan Timuran, Banjarsari, Solo, Minggu (30/7/2017) pagi. (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Minggu, 30 Juli 2017 14:30 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Politik Share :

Datangi MTA, Panglima TNI Minta Jangan Ikuti Ulama yang Anti-Pancasila

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta agar masyarakat tidak mengikuti ulama yang anti-Pancasila.

Solopos.com, SOLO — Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta umat Islam tidak percaya dan mengikuti ulama atau kiai yang mengajak mengubah ideologi negara Indonesia menjadi bukan lagi Pancasila.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat berbicara di Gedung Pusat Majelis Tafsir Al-Quran (MTA), Jl. Ronggowarsito No. 111A, Kelurahan Timuran, Banjarsari, Solo, Minggu (30/7/2017) pagi. Dia mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa Pancasila sudah final menjadi ideologi negara. Gatot menilai masyarakat yang hidup setelah masa kemerdekaan wajib memelihara, menjaga, dan mengisi semangat Pancasila.

“Saya ingatkan. Kita ini hanya penikmat kemerdekaan yang bertugas memelihara, menjaga dan mengisinya. Ya kan? Siapa yang berjuang? Enggak ada di sini. Maka Pancasila sebagai ideologi negara sudah final. Jangan lagi, tidak boleh siapapun mengubahnya. Kalau ada yang mengajak mengubah, ulama pun, kiai pun, jangan dipercaya, jangan dituruti!” kata Gatot kepada ribuan jamaah MTA dalam Pengajian Ahad (Jihad) Pagi, Minggu.

Gatot menyatakan ulama maupun kiai yang mengajak mengubah idelogi negara adalah ulama atau kiai dari luar Indonesia, atau berasal dari Indonesia tapi telah dipengaruhi untuk merusak Indoensia. Dia meminta semua umat Islam dan masyarakat Indonesia bisa menengok sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Menurut Gatot, ulama punya peran sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Jika ada ulama yang ingin mengubah ideologi Pancasila, berarti mereka tidak meneruskan perjuangan ulama terdahulu.

“Yang menyatukan bangsa ini siapa? Para ulama. Yang memotori perjuangan dalam membuat divisi perjuangan siapa? Para ulama. Yang merumuskan dasar-dasar negara ini agar bangsa ini langgeng abadi siapa? Para ulama. Maka bohong kalau para ulama akan merusak bangsa ini. Enggak mungkin. Akan merusak Pancasila Bhineka Tunggal Ika? Bohong. Ulama yang hidup sekarang ini, sebagian besar, 95% adalah didikan ulama-ulama yang berjuang pada saat kemerdekaan,” jelas Gatot.

Gatot memyampaikan materi pada pukul 07.15 WIB dan selesai pada pukul 08.20 WIB. Dia naik mimbar setelah dipersilakan Ketua MTA, Ahmad Sukina. Saat ditemui wartawan setelah keluar gedung, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sengaja datang ke Solo untuk berbicara di MTA. Menurut dia, jaringan MTA luas sehingga bisa menyebarkan semangat persatuan NKRI ke segala penjuru daerah di Indonesia.

“Saya datang ke sini karena jaringan MTA ada di seluruh Indoensia. Niatnya adalah untuk mewjudkan dan menjaga NKRI dengan perwakilan-perwakilan yang ada. Jadi saya bicara di sini,” ujar Gatot singkat dalam kondisi terburu-buru masuk ke dalam mobil.

Sementara itu, Ahmad Sukina dalam kegiatan ini memberikan ceramah berjudul Islam Bukan Teroris, Terorisme Bukan Islam. Dia menyebut Islam mengajarkan manusia untuk hidup damai, rukun dan saling menebarkan kasih sayang. Dengan mengabaikan islam, menurut Sukino, dunia akan kacau balau dan terorime akan timbul di mana-mana seperti sekarang ini. Dia menegaskan, agama Islam dibawa oleh Rasulullah SAW yang mempunyai kepribadian suci dan sifat-sifat terpuji lainnya.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…