Ilustrasi jenazah (google) Ilustrasi jenazah (google)
Minggu, 30 Juli 2017 06:22 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

BUNUH DIRI SLEMAN
Inikah Penyebab Pasutri di Gamping Pilih Mengakhiri Hidup?

Bunuh diri Sleman, pasutri dimakamkan Sabtu (29/7/2017).

Solopos.com, SLEMAN — Sepasang suami istri yang ditemukan tewas di Gamping dimakamkan tanpa autopsi pada Sabtu (29/7/2017). Pihak keluarga kedua belah pihak keberatan dilakukan autopsi sehingga pihak kepolisian tidak melanjutkan proses.

Baca Juga : BUNUH DIRI SLEMAN : Jasad Pasutri Tak Diautopsi

Sabtu (29/7/2017), Kompol Herwinedi, Kapolsek Gamping menduga ada problem internal antara pasangan yang meninggalkan dua orang anak ini. Hal ini diketahui salah satunya dari surat yang ditinggalkan maupun gelagat keluarga masing-masing kala mengurus jenazahnya.

Daniel sendiri selama ini dikenal sebagai pengemudi taksi online sekaligus humas Paguyuban Pengemudi Online Jogjakarta (PPOJ).

Ia selama ini getol memperjuangkan nasib pengemudi taksi online di tengah persaingan dengan taksi berargo. Pemakamannya kemarin diketahui dihadiri oleh sejumlah rekannya di Dongkelan, Bantul.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PPOJ, Yasser Arafat menerangkan ia dan rekannya mendampingi saat proses di rumah sakit. Selama ini, Daniel tak pernah sekalipun menyinggung persoalan rumah tangganya, seperti yang terlihat dalam surat wasiat yang ditulis sebelum ia ditemukan meninggal dunia Bersama sang istri. Ia bahkan dikenal menjadi ayah yang begitu menyayangi buah hatinya yang kerapkali dibawanya narik taksi online.

Sebagaimana diketahui, jasad pasangan suami istri Daniel Priyatna dan Dwi Septi Respa ditemukan tak bernyawa sehari sebelumnya. Daniel ditemukan kerabatnya tewas gantung diri sementara istrinya ditemukan tak bernyawa di mobil pribadinya.

Ditemukan bekas jeratan di tubuh istrinya beserta surat yang berisikan pesan kematian. Surat tersebut berisi pesan agar jasadnya disemayamkan dalam satu liang dan tidak perlu dilakukan proses autopsi.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Memaknai Imlek, Memulihkan Bumi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (15/2/2018). Esai ini karya Hendra Kurniawan, dosen Pendidikan Sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menekuni kajian sejarah Tionghoa. Alamat e-mail penulis adalah hendrayang7@tgmail.com. Solopos.com, SOLO–Syahdan ketika Dinasti Qing runtuh dan mengakhiri sejarah…