KA Prambanan Ekspress (JIBI/Solopos/Dok) KA Prambanan Ekspress (JIBI/Solopos/Dok)
Sabtu, 29 Juli 2017 08:10 WIB Danur Lambang Pristiandaru/JIBI/Solopos Solo Share :

TRANSPORTASI SOLO
9 Tahun Tak Ada Peremajaan, KA Prameks Kewalahan Layani Penumpang

Jumlah penumpang terus bertambah sementara peremajaan armada lambat membuat KA Prameks kewalahan.

Solopos.com, SOLO — Kereta api (KA) Prambanan Ekspres (Prameks) tertatih melayani ribuan penumpang setiap harinya. Terhitung sudah sembilan tahun ada peremajaan armada kereta jurusan Solo-Jogja PP itu.

Manager Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daops) VI/Yogyakarta, Eko Budiyanto, mengatakan sejak diluncurkan pada Mei 1994, menggantikan KA Kuda Putih dalam rangkaian perjalanan Solo-Jogja, kehadiran KA Prameks menjadi moda transportasi massal yang murah dan relatif cepat.

Kehadiran kereta api tersebut dimanfaatkan warga Solo maupun Jogja untuk pergi-pulang (PP) baik untuk urusan pekerjaan maupun berpelesir. Seiring meningkatnya jumlah penumpang dan tingginya mobilitas warga setelah kehadiran kereta api tersebut, jadwal rangkaian KA Prameks juga meningkat.

Dari yang tadinya hanya melayani dua kali PP dalam sehari, kini KA Prameks melayani 14 kali PP dalam sehari. Pengguna KA Prameks dari tahun ke tahun selalu meningkat.

Sampai saat ini, rata-rata jumlah penumpang KA Prameks tercatat 8.000-an orang per hari. Di tengah meningkatnya jumlah pengguna KA Prameks, tiga KA utama dan satu KA cadangan harus berjibaku melayani ribuan penumpang setiap harinya.

“Jadi KA Prameks sekarang sudah menjadi kebutuhan. Karena sudah menjadi kebutuhan, ekspektasi masyarakat menjadi tinggi. Hal itu membuat komplain dari masyarakat juga tinggi kepada kami. Setiap hari kami menerima beragam komplain dari pengguna KA Prameks,” kata dia dalam jumpa pers kepada wartawan di Stasiun Purwosari, Jumat (28/7/2017).

Komplain paling sering yang diterima PT KAI adalah jam kedatangan yang sering molor serta kehabisan tiket. Eko menambahkan terkadang KA Prameks terlambat datang sampai 10 menit.

Kondisi KA yang sudah uzur membuatnya harus dioperasikan secara hati-hati ketika mengangkut penumpang. Hal itu berimbas pada jam kedatangan KA yang sering kali molor.

Sejak peremajaan armada pada 2008, tidak ada pembaruan lagi dalam kurun waktu hampir sembilan tahun sampai sekarang. Urusan suku cadang pun PT KAI Daops VI kesulitan mencarinya.

KA yang saat ini digunakan merupakan KA modifikasi sehingga tidak ada suku cadang asli untuk KA tersebut. Metode kanibalisme, mengganti suku cadang lama dengan suku cadang bekas dari kereta lain, pun kerap dilakukan.

“Kalau mau memperbarui [KA] tanggung. Soalnya pemerintah akan melakukan elektrifikasi KA dalam waktu dekat, namun kami belum tahu kapan pastinya. Tapi kalau urusan safety, KA Prameks masih bagus,” sambung dia.

Dengan keterbatasan tersebut, PT KAI Daops VI telah berusaha sekuat tenaga melayani penumpang KA Prameks setiap hari. Salah satu pengguna KA Prameks, Kurnia Ristawati, mengaku menggunakan KA Prameks setiap hari untuk menuju ke tempat kerjanya sejak 2011.

Warga Umbulharjo, Jogja, tersebut saban hari menumpang KA Prameks ke tempat kerjanya di Solo. Belakangan ini, pegawai restoran itu mengaku kedatangan KA Prameks sering kali telat beberapa menit.

“Sering juga KA Prameks harus berhenti beberapa saat untuk memprioritaskan KA lain yang melintas di rel yang sama. Sekarang ini pengguna KA Prameks juga semakin banyak. Saya sering kehabisan tiket dan mau tidak mau harus membeli tiket KA Prameks untuk jadwal pemberangkatan setelahnya,” kata dia kepada Solopos.com.

Sebelumnya, dia sempat menjadi pelanggan kartu trayek bulanan (KTB) KA Prameks. “Tapi sekarang sudah enggak ada. Untungnya selain melayani pembelian secara go show, tiket KA Prameks sekarang juga bisa dipesan tujuh hari sebelumnya. Jadi cukup merasa terbantu meski masih sering kehabisan tiket,” tambahnya.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…