Sebuah pondok beratapkan papan panel surya penyerap energi matahari berdiri di sepetak sawah di Dusun Kedungmiri, Rabu (26/7/2017). Sementara sejumlah kran impact sprinkler terpancang di tengah sawah menyemprotkan air menyirami tanaman. Dua teknologi itu memudahkan pekerjaan petani di Kedungmiri. (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja) Sebuah pondok beratapkan papan panel surya penyerap energi matahari berdiri di sepetak sawah di Dusun Kedungmiri, Rabu (26/7/2017). Sementara sejumlah kran impact sprinkler terpancang di tengah sawah menyemprotkan air menyirami tanaman. Dua teknologi itu memudahkan pekerjaan petani di Kedungmiri. (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 27 Juli 2017 18:20 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KISAH INSPIRATIF
Berkat Matahari, Warga Kedungmiri Ongkang-Ongkang Kaki Rawat Tanaman (1/2)

Kisah inspiratif mengenai pemanfaatan sel surya

Solopos.com, BANTUL — Tenaga matahari tak hanya digunakan untuk menerangi rumah atau permukiman di wilayah terpencil. Tim peneliti dari Kementerian Pertanian telah menerapkan energi surya untuk menopang kebutuhan energi di bidang pertanian.

Sebanyak 20 keping papan panel surya terbentang di sepetak sawah di Dusun Kedungmiri, Sriharjo, Imogiri, Bantul. Papan penangkap sinar matahari itu menjadi atap sebuah pondok berukuran sekitar enam meter persegi.

Panas terik menyengat Rabu (26/7/2017) siang, sejumlah orang memilih berteduh di pondok beratap warna biru itu. Giyanto, salah satu petani di Kedungmiri turut berteduh di bawah pondok. Di sebelah ia berdiri, sebuah mesin pompa air terdengar meraung-raung saat dinyalakan. Mesin ini tengah bekerja keras menyedot dan mengalirkan air ke lahan cabai.

Lelaki berbadan tegap itu tengah mengawasi tanaman cabainya disiram air. Namun bukan tenaga manusia yang menyiram tanaman, sejumlah keran air yang terpancang di tengah sawah otomotis mengeluarkan semprotan air secara berputar. Alat ini disebut impact sprinkler.

Giyanto kini tak lagi kelelahan memanggul air dari sumur atau sungai untuk menyirami sawah tadah hujan miliknya. Ia juga tak perlu repot membeli bahan bakar minyak (BBM) untuk menghidupkan pompa air demi mengalirkan air ke lahan pertanian.

“Dulu iya, saat saya masih muda sebelum 1990-an, ngambil air masih memanggul dari sungai sejauh 200 meter. Lalu dilanjutkan dengan pompa berbahan bakar minyak, sekarang sudah enggak lagi pakai itu,” tutur lelaki yang juga Kepala Dusun Kedungmiri disambangi di sawahnya Rabu.

Sejak 2015, Giyanto bisa ongkang-ongkang kaki merawat tanamannya sambil bersantai di bawah pondok panel surya. Ia tak perlu mengangkut air atau mencari tenaga kerja penyiram tanaman. Cukup memutar kran impact sprinkler dan menghidupkan pompa air berbahan bakar energi matahari, lahan seluas setengah hektare selesai disiram dalam sekejap.

“Dulu, tenaga penyiram tanaman saja enggak cukup empat orang untuk lahan seluas ini. sekarang satu dua orang saja cukup,” ia terdengar girang.

Ia pun tak perlu merogoh uang membeli BBM untuk menghidupkan pompa air yang selama ini menguras biaya produksi. Matahari memberi energi secara gratis. Itu terjadi sejak sebuah tim peneliti dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Kementerian Pertanian yang berbasis di Bogor menguji coba teknologi panel surya untuk membantu memudahkan pekerjaan petani.

lowongan pekerjaan
PT. SARANA SURAKARTA VENTURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JUAL DAIHATSU Terios’09 TX AD-Solo,NomerCantik,An/Sendiri,Istimewa,Harga Nego,Hub:08…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Ayo Sowan Simbah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (14/9/2017). Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah jjoko@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Banyak orang tidak tahu 14 September bagi bangsa Indonesia merupakan Hari Kunjung Perpustakaan….