Jogja
Selasa, 25 Juli 2017 - 22:22 WIB

NARKOBA SLEMAN : Mlati dan Depok Masuk Zona Merah

Redaksi Solopos.com  /  Mediani Dyah Natalia  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Sebanyak 20 peserta rapat kerja pemberdayaan masyarakat anti narkoba dites urine dadakan di Mlati, Selasa (25/7/2017). Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penggunaan narkotika dari para peserta.(Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Narkoba Sleman dicegah dengan berbagai cara.

Harianjogja.com, SLEMAN — Kecamatan Mlati dan Depok masuk dalam zona merah kerawanan penyalahgunaan narkoba di Sleman. Hingga akhir Juli 2017, telah terjadi 10 kasus penyalahgunaan narkotika di masing-masing kecamatan.

Advertisement

Terdapat 42 kasus penyalahgunaan yang terjadi di 17 kecamatan selama tahun 2017. “Angka tertinggi di Depok dan Mlati, per 21 Juli 2107,”ujar Kanir 1 Satnarkoba Polres Sleman, Ipda Galan Adid Darmawan dalam rapat kerja pemberdayaan masyarakat anti narkoba di Mlati, Selasa (25/7/2017). Selain itu, sejumlah kecamatan perbatasan juga masuk dalam daerah rawan peredaran narkotika.

Hal ini merupakan dampak dari banyaknya pendatang di daerah, jumlah penduduk, lingkungan kampus, serta banyaknya tempat hiburan di daerah tersebut. Sebagian besar narkotika dalam jumlah besar berada di daerah Magelang dan Muntilan untuk kemudian didistribusikan ke Jogja dalam ukuran kecil.

Selama ini, sistem yang dipergunakan adalah sistem beli terputus dengan meletakkan narkotika di tempat yang telah ditentukan. Dengan demikian, antara pembeli dan penjual tidak bertemu muka dan hanya bertransaksi melalui ponsel. Secara umum, penyalahgunaan narkotika di Sleman naik selama 3 tahun belakangan sejak 2015. Namun, Ipda Galan menyebutkan ada peningkatan signifikan di Kecamatan Kalasan dari 3 kasus narkotika di 2015 menjadi 9 kasus di 2016.

Advertisement

Setiap tahunnya jenis yang paling banyak dimanfaatkan ialah jenis shabu-shabu serta psikotropika jenis trihexipenidil dan alprazolam. Sedangkan narkotika jenis baru seperti flaka belum terpantau beredar di Jogja. Ipda Galan menerangkan jika jenis trihexipenidil merupakan jenis yang paling banyak menyerang kalangan menengah ke bawah.

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif