Tasroh (Istimewa) Tasroh (Istimewa)
Minggu, 23 Juli 2017 06:00 WIB Ichwan Prasetyo/JIBI/SOLOPOS Kolom Share :

GAGASAN
Utang sebagai Investasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (20/7/2017). Esai ini karya Tasroh, aktivis Banyumas Policy Watch dan alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang. Alamat e-mail penulis adalah tasroh@gmail.com.

Solopos.com, SOLO — Saat ini utang pemerintah tercatat Rp3.672,33 triliun. Perinciannya adalah status utang bersumber dari surat berharga negara (SBN) hingga Mei lalu Rp2.943,73 triliun (80,2%) dan pinjaman Rp728,6 triliun (19,8%).

Sayangnya, sebagaimana disebutkan Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, 38% utang tersebut merupakan ”kepemilikan asing”. Maknanya adalah jika tidak hati-hati, konsekuensi dari bertambahnya utang lewat SBN bisa runyam.

Konskuensinya di samping dunia perbankan bisa kesulitan likuiditas karena industri ini akan berlomba menaikkan suku bunga, juga berpotensi meningkatkan dominasi asing pada ekonomi nasional!

Ketika berbicara tentang risiko, dampak buruk pengelolaan utang dapat bersifat sistematis, termasuk risiko terhadap daya tahan anggaran negara secara keseluruhan. Terkait hal ini, setelah mendapatkan utang baru pemerintah dituntut bisa mengelola sekaligus mengendalikan penggunaan dana utang pemerintah tersebut.

Isu pemanfaatan dana utang selama ini selalu diperdebatkan berbagai pihak, namun tampaknya belum bisa dibumikan dalam agenda pemerintah itu sendiri. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengatakan pengelolaan utang memang belum benar-benar mampu keluar (out of the box) dari tradisi selama ini, yakni pengalokasian dana utang berbasis tradisi birokrasi turun-temurun.

Hal ini terlihat dari pemanfaatan dana utang dari Bank Dunia kepada pemerintah senilai Rp64 triliun pada 2016 untuk pembiayaan sektor pendidikan, termasuk pemberian dana peningkatan penghasilan bagi kalangan pendidikan, serta pembiayaan pembangunan infrastruktur.

Dana  untuk pembiayaan infrastruktur tak hanya dari utang pemerintah, tetapi juga dipasok pihak ketiga yang notabene juga berujung pada utang swasta dan atau badan usaha milik negara (BUMN).

Catatan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menjelaskan di mana pun di dunia ini memang tak satu pun negara yang tidak berutang kepada pihak lain. Jepang, Italia, Inggris, serta Amerika Serikat sebagai negara yang disebut modern pun memiliki utang yang amat besar, tiga kali lipat hingga lima kali lipat lebih besar daripada Indonesia.

Selanjutnya adalah: Sukses mengelola utang…

lowongan pekerjaan
BMT ALFA DINAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…