Pengunjung mengamati karikatur karya G.M. Sudarta pada pameran 50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom di Balai Soedjatmoko, Solo, Rabu (19/7). Sebanyak 130 karya pilihan yang dibuat sejak tahun 1967-2017 tersebut di pamerkan mulai 19-23 Juli 2017. (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Pengunjung mengamati karikatur karya G.M. Sudarta pada pameran 50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom di Balai Soedjatmoko, Solo, Rabu (19/7/2017). Sebanyak 130 karya pilihan yang dibuat sejak tahun 1967-2017 tersebut di pamerkan Rabu-Minggu (19-23/7/2017) . (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Kamis, 20 Juli 2017 21:22 WIB Ika Yuniati/JIBI/Solopos Issue Share :

Menelusuri Jejak Indonesia dari Pameran Karikatur Oom Pasikom Karya G.M. Sudarta

Karya karikatur ciptaan G.M. Sudarta, Oom Pasikom dipamerkan di Balai Soedjatmoko.

Solopos.com, SOLO–Karikatur hitam putih bergambar pria berdasi dengan kepala berbentuk kepalan tangan menjadi salah satu gambar paling tua karya GM Sudarta yang dipamerkan dalam 50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom di Balai Soedjatmoko, Rabu (19/7/2017).

Gambar yang diterbitkan di Harian Kompas, 12 Juli 1967 tersebut dilengkapi dengan tulisan koruptor garong penjelundup pada bagian dada. Seolah sebagai gambaran tentang isu korupsi yang sudah mengakar di Indonesia sejak era ’60-an. Pada 19 Juli 1998 Sudarta merekam jejak penculikan dan orang hilang di Indonesia lewat gambar sidik jari bertuliskan penculikan.

Di usianya yang tak lagi muda, seniman dengan sejumlah penghargaan bergengsi tersebut terus membuat karikatur tentang Indonesia meskipun intensitas terbitannya di Harian Kompas mulai dikurangi.

Meski dalam kondisi kesehatan yang mulai menurun, Sudarta masih sempat merekam hiruk pikuk permasalahan Pilkada DKI 2017 dalam sebuah karikatur berbentuk raksasa menyeramkan yang memakai jas hitam dan dasi. Ia menggambarkan kejamnya perpolitikan Indonesia yang membuat masyarakat Indonesia semakin terpolarisasi.

Didominasi isu politik, ada 130 karikatur GM Sudarta yang terpajang dalam pameran kartun GM Sudarta 50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom di Balai Soedjatmoko, Selasa-Minggu (18 –23/7/2017) ini.

Sebelumnya jejak Indonesia dalam seni karikatur yang dimuat rutin Harian Kompas sejak 1967 tersebut telah dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, Jogja, dan akan dilanjutkan ke Bali pada September mendatang.

Salah satu pengunjung pameran, Agus Anwari, 50, mengikuti karya G.M. Sudarta yang terbit dalam rubik Oom Pasikom di Harian Kompas pada era 90-an. Waktu itu ia dan keluarga masih berlangganan media cetak yang berpusat di Jakarta tersebut.

Menurutnya G.M. Sudarta selalu konsisten dengan karya-karya sederhana namun mengena. Lebih dari itu, ia mampu menyikapi realitas kehidupan berbangsa dan bernegara di setiap zamannya dengan cerdik.

“Sejak belasan tahun terakhir saya sudah enggak lihat karyanya karena berhenti langganan Kompas. Tetapi kalau melihat pameran ini, seperti G.M. Sudarta selalu konsisten dengan karyanya. Gambarannya selalu mewakili isu yang sedang berkembang saat ini. Pilkada DKI ini salah satunya,” kata dia, Rabu (19/7/2017).

Nostalgia karya-karya rubrik Oom Pasikom tampaknya tak hanya Agus. Pengelola Program Balai Soedjatmoko, Yunanto Sutyastomo, Rabu, mengatakan mayoritas pengunjung acara pameran yang datang di hari pembukaan, Selasa, merupakan penikmat setia karya Sudarta di rentang usia 40 tahun – 50 tahun. Saat itu merupakan era kejayaan Oom Pasikom karena menjadi media paling kritis yang cukup aman disaat semua orang memuja orde baru.

“Justru yang anak-anak muda generasi sekarang hanya sedikit yang datang di pembukaan kemarin. Ya saya maklum, karena eranya memang sudah berbeda,” kata dia.

 

lowongan pekerjaan
BMT ALFA DINAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…