Bullying - ilustrasi (guardianlv.com) Bullying - ilustrasi (guardianlv.com)
Selasa, 18 Juli 2017 00:00 WIB JIBI/Solopos/Newswire Pendidikan Share :

Bukan Mendos, Anak Lakukan Bullying Karena Minim Toleransi

Orang tua tidak bisa serta-merta menyalahkan media sosial (medsos) dan Internet saat anak melakukan tindakan perundungan atau bullying.

Solopos.com, JAKARTA—Siapa pun bisa menjadi korban bully rekan sebaya atau bahkan orang di sekitarnya. Psikolog anak dan keluarga, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengatakan hal pertama yang harus dilakukan orang tua saat sang anak di-bully adalah menenangkan anak.

“Tenangkan, tanamkan pada anak bahwa dia tetap dicintai dan berharga [perlakuan bully membuat anak merasa tak berdaya dan tak berguna],” tutur dia seperti dilansir Antara, Senin (17/7/2017).

Vera meminta orang tua meyakinkan anak bahwa orang-orang di sekililingnya seperti keluarga, kerabat, dan lainnya dapat membantu dan melindunginya. Beri anak keyakinan kejadian yang tak mengenakkan tersebut tak akan terulang.

Mengenai terjadinya kasus bully yang belakangan terjadi kembali dan menjadikan seorang mahasiswa berkebutuhan khusus di Universitas Gunadarma, Depok, Farhan, menjadi korban perundungan, Vera menyoroti pengasuhan keluarga pada diri pelaku.

Farhan adalah mahasiswa berkebutuhan khusus yang berkuliah di Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (FIKTI) Gunadarma angkatan 2016. Para perundungnya adalah teman sekelasnya sendiri. Video mahasiswa berkebutuhan khusus diganggu beberapa mahasiswa lain kini beredar luas di medos. Mahasiswa autis itu sedang berjalan, namun tasnya ditarik-tarik oleh mahasiswa lain hingga dia sulit berjalan. Farhan yang akhirnya bisa melepaskan diri melemparkan tong sampah pada para pengganggu.

“Yang bisa dilihat dari kasus ini, para pelaku [dan juga para saksi yang membiarkan] kurang tertanam di dalam diri mereka tentang toleransi perbedaan dan kurang berempati jadinya,” kata dia.

Toleransi bukan sebatas perbedaan keyakinan, tapi juga perbedaan kondisi, dalam hal ini anak-anak yang punya kebutuhan khusus atau keterbatasan tertentu. Dia mengatakan media atau Internet tidak bisa serta-merta disalahkan.

Orang tua harus berintrospeksi apakah pengasuhan dan pendidikan yang diberikan selama ini sudah tepat pada anak, terutama menyangkut perlakuan pada mereka yang berkebutuhan khusus.

“Kita tidak bisa menyalahkan media/Internet saja dalam hal ini, tapi juga menjadi bahan instropeksi bagi orangtua serta lingkungan pendidikan tentang bagaimana seharusnya membimbing anak agar dapat berperilaku manusiawi dan bijak di dalam lingkungan yang inklusif,” ujar Vera.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Bisnis Syariat ala Istana Pasir

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (14/7/2017). Esai ini karya Suharno, dosen di Program Studi Akuntansi dan Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi, Solo. Alamat e-mail penulis adalah suharno_mm_akt@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Dalam sepekan terakhir  kita dikejutkan dua kasus dugaan investasi bodong…