Sejumlah warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) mempersiapkan pembangunan rumah di lahan relokasi yang menggunakan tanah kas desa Palihan, Temon, Kulonprogo. Foto diambil pada 12 April 2017. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Sejumlah warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) mempersiapkan pembangunan rumah di lahan relokasi yang menggunakan tanah kas desa Palihan, Temon, Kulonprogo. Foto diambil pada 12 April 2017. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 18 Juli 2017 00:40 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

BANDARA KULONPROGO
Sejumlah Anggota WTT Ajukan Relokasi Susulan

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo mempertimbangkan untuk memfasilitasi mereka dengan sistem magersari

Solopos.com, KULONPROGO—Beberapa anggota Wahana Tri Tunggal (WTT) berharap bisa mengakses program relokasi warga terdampak bandara di Kecamatan Temon. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo mempertimbangkan untuk memfasilitasi mereka dengan sistem magersari.

Ketua WTT, Martono, mengatakan ada delapan KK yang diajukan untuk mendapatkan bantuan berupa relokasi. “Mereka itu yang tidak mampu sendiri atau tidak punya apa-apa. Kalau yang lainnya bisa pindah, tidak apa-apa kalau tidak relokasi,” ujarnya, Senin (17/7/2017).

Warga yang minta relokasi cenderung mengharapkan sistem magersari, yaitu dengan menggunakan Pakualaman Grond (PAG). Jika hal itu memungkinkan, dia menyadari akan ada proses panjang yang harus dilalui. Relokasi susulan bisa jadi tidak dilakukan tahun ini. Padahal mereka juga bakal diminta segera pindah jika pembangunan di lahan relokasi yang saat ini sedang berjalan sudah selesai.

Meski begitu, Martono mengaku sudah menyiapkan solusi alternatif. Sebelum pindah ke lahan relokasi, delapan kepala keluarga bersangkutan bisa ditampung sementara oleh anggota WTT lain atau kerabat masing-masing. “Kalau sekedar tempat tinggal sementara buat delapan KK itu tidak masalah. Kalau punya sanak keluarga, bisa dititipkan. Kalau tidak, bisa dengan sesama WTT dulu,” paparnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kulonprogo Astungkoro membenarkan mengenai adanya pengajuan program relokasi dari WTT. Dia juga sudah mengetahui jika relokasi yang diharapkan adalah sistem magersari.

Namun, jumlahnya memang tidak banyak karena sebagian besar sudah membeli rumah sendiri sehingga dipastikan tidak ikut relokasi. “Nanti menjadi tugas kami [Pemkab] untuk nyuwun [minta] lagi ke Pura Pakualaman karena yang pertama sudah penuh,” ungkap Astungkoro.

Persiapan relokasi yang difasilitasi dengan sistem magersari saat ini sudah dilakukan sejak setahun yang lalu. Astungkoro lalu meminta warga bersabar karena ada beberapa tahap yang mesti dilalui lagi. Mesti dibicarakan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga untuk mendapatkan dukungan dari Pemerintah Pusat.

lowongan pekerjaan
BMT ALFA DINAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…