Warga memukul kentongan saat peresmian Program Simantratong di Kantor Desa Pulutan Kulon, Wuryantoro, Wonogiri, Kamis (13/7/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Warga memukul kentongan saat peresmian Program Simantratong di Kantor Desa Pulutan Kulon, Wuryantoro, Wonogiri, Kamis (13/7/2017). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Kamis, 13 Juli 2017 23:15 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

Begini Cara Warga Pulutan Kulon Wonogiri Lestarikan Kentongan

Warga Pulutan Kulon, Wuryantoro, Wonogiri, menggunakan kentongan untuk berbagai keperluan.

Solopos.com, WONOGIRI — Bunyi kentongan bertalu-talu mengikuti irama tembang Jawa yang dibawakan sekelompok warga di Kantor Desa Pulutan Kulon, Wuryantoro, Wonogiri, Kamis (13/7/2017).

Bunyi itu dari ratusan kentongan yang dipukul warga. Satu orang memegang satu kentongan. Mereka antusias memukul kentongan bahkan saat acara dimulai sekali pun.

Hari itu ada peresmian Program Sistem Informasi Tradisional Kentongan (Simantratong) yang dihadiri Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Wonogiri Waluyo, jajaran Polsek Wuryantoro, Pemerintah Kecamatan Wuryantoro, dan perangkat Desa Pulutan Kulon.

Warga antusias memainkan kentongan. Meski tembang sudah usai, mereka tetap membunyikannya. Suaranya yang riuh menyemarakkan suasana. Panitia acara sampai harus meminta warga menghentikan pemukulan kentongan itu sementara waktu.

Membunyikan kentongan sudah menjadi kebiasaan warga desa. Sebelum ada gerakan kentonganisasi, warga sudah akrab dengan bunyi-bunyi kentongan sejak 1914. Kentongan milik Demang Taru Sudaryo selama kurun waktu 1914-1947 yang sekarang masih tergantung di pendapa desa menjadi saksi sejarah kentongan pernah menjadi alat komunikasi warga Pulutan Kulon.

Kentongan berbahan kayu lo itu hingga kini masih dapat digunakan meski beberapa bagian sudah rusak. Tokoh masyarakat setempat, Suwardi, menceritakan dahulu Demang menggunakan kentongan itu untuk memanggil warga supaya berkumpul untuk arisan, bermusyawarah, dan menyampaikan pesan tentang kondisi lingkungan, seperti ada kematian, bencana alam, pencurian, dan sebagainya.

Kentongan itu terus diturunkan kepada para kepala desa (kades) setelah kepemimpinannya, yakni Patmo Tanoyo (1947-1974), Somo Suwito (1974-1989, dan digunakan keturunan Somo hingga sekarang. “Namun, budaya berkomunikasi dengan kentongan mulai terkikis seiring berkembangnya zaman. Perlahan tapi pasti kentongan mulai membumi lagi di Pulutan Kulon setelah muncul Program Simantratong,” kata lelaki berusia itu.

Kades Pulutan Kulon, Sulistyo Wibowo, mengatakan warga desa kembali akrab dengan kentongan. Setiap keluarga memiliki minimal dua kentongan. Di desa itu hidup lebih dari 1.000 keluarga.

Pemanfaatannya menyesuaikan kondisi sekarang, yakni untuk penanda jam belajar. Warga diharuskan membunyikan kentongan dengan pukulan teratur pukul 19.00 WIB sebagai penanda jam belajar dimulai.

Saat terdengar bunyi itu warga diminta mengawasi anak belajar di rumah. Pada pukul 21.00 WIB warga kembali membunyikan kentongan sebagai penanda jam belajar berakhir dan waktunya beristirahat.

“Setelah itu kentongan dibunyikan lagi pada jam-jam tertentu oleh anggota kelompok warga sebagai penanda agar warga waspada. Pukul 24.00 WIB-01.00 WIB dibunyikan lagi untuk membangunkan warga, setidaknya nglilir, supaya mengecek kondisi rumah. Setelah bangun, warga diharapkan ikut membunyikan kentongan. Pemukul kentongan kami arahkan para pemuda biar mereka juga memahami kearifan lokal,” ulas Kades.

LOWONGAN PEKERJAAN
SMK MUHAMMAADIYAH PROGRAM KHUSUS (PK) KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…