Seorang warga menyapu halaman depan rumah Ch. Kusmiyati, 84, di Dukuh Titang, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kamis (6/7/2017) siang. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Seorang warga menyapu halaman depan rumah Ch. Kusmiyati, 84, di Dukuh Titang, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kamis (6/7/2017) siang. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Kamis, 6 Juli 2017 21:15 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

Kopilot Pesawat Jatuh di Papua Dimakamkan di Klaten

Kopilot pesawat yang hilang kontak dan jatuh di Papua bakal dimakamkan di Klaten pada Sabtu.

Solopos.com, KLATEN — Jenazah Valens Ido Naibaho, 23, kopilot pesawat milik perusahaan penerbangan Associated Mission Aviation (AMA) yang hilang kontak pada Rabu (5/7/2017) dan ditemukan jatuh di Papua bakal dimakamkan di Klaten, Sabtu (8/7/2017).

Pesawat itu hilang kontak pada Rabu sesaat setelah lepas landas dari Bandara Wamena menuju Nduga, Papua, dan ditemukan dalam kondisi hancur dengan lima orang di dalamnya meninggal dunia termasuk pilot dan kopilot. Ido bakal dimakamkan di kompleks permakaman Dukuh Titang, Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno.

Klaten merupakan tempat tinggal kakek dan nenek Ido serta kampung halaman ibunda Ido bernama AKBP Nanik yang saat ini bertugas di Sekolah Calon Perwira (Secapa) Sukabumi. Sekitar dua tahun lalu, ayah Ido, AKBP Johny Naibaho, juga dimakamkan di permakaman Dukuh Titang.

Salah satu kerabat Ido, Paulus Bambang, mengatakan keluarga mendapat kabar pesawat yang ditumpangi Ido mengalami hilang kontak pada Rabu siang dari ibunda Ido. “Pertama dapat kabar dari ibunya pada Rabu sekitar pukul 11.30 WIB. Pemberitahuannya itu pesawat mengalami hilang kontak saja. Kemudian tadi pagi kami mendapat tim evakuasi sudah mencapai lokasi dan kelima orang di dalamnya meninggal dunia,” ungkap Bambang yang merupakan paman Ido saat ditemui wartawan, Kamis (6/7/2017).

Bambang mengatakan ibunda Ido sudah berangkat ke Papua untuk menjemput jenazah Ido. Diperkirakan, jenazah Ido tiba pada Jumat (7/7/2017) malam. “Rencananya dimakamkan pada Sabtu [8/7/2017] siang,” katanya.

Ido merupakan putra pertama dari dua bersaudara. Ia lahir di Medan. Sekitar setahun terakhir, Ido bekerja di perusahaan penerbangan AMA.

“Saat SD ia bersekolah di Medan. Kemudian saat SMP dan SMA di Sukabumi mengikuti tugas orang tuanya. Ia kemudian melanjutkan sekolah penerbangan di Cilacap,” ungkap Bambang.

Bambang menuturkan Ido kerap mendatangi rumah kakek dan neneknya di Klaten. “Dalam setahun itu bisa dua kali ke sini. Ya kalau ke Klaten pasti nyekar [ziarah] ke makam ayahnya. Setelah bekerja memang belum ke Klaten. Rencananya saat Lebaran kemarin mau ke Klaten. Namun, tidak jadi karena masih bertugas,” urai dia.

Ido dikenal baik dan ramah. Ia rutin mengirimkan foto melalui Whatsapp (WA) sebelum penerbangan ke ibunya, termasuk sebelum peristiwa kecelakaan pesawat yang ditumpangi Ido. Foto-foto itu juga diunggah ke grup WA keluarga besarnya.

“Rasa cinta dengan keluarganya itu tinggi. Dia ingin membanggakan keluarganya. Cita-citanya memang menjadi pilot,” katanya.

Ditanya firasat keluarga sebelum peristiwa kecelakaan, Bambang menuturkan pada Rabu, nenek Ido, Ch. Kusmiyati, 84, memangkas pohon belinjo di depan rumahnya. “Ia menyuruh tetangga memangkas pohon belinjo di depan rumah. Tidak biasanya seperti itu. Selain itu, bude Ido yang dekat dengan Ido merasa giginya mau tanggal dan merasa dingin,” urai Bambang.

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Era Tahun 1930-an

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (27/10/2017). Esai ini karya Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang dan penulis buku Pengantar Komunikasi Massa. Alamat e-mail penulis adalah nurudin@umm.ac.id. Solopos.com, SOLO–Belakangan ini saya sedikit risau dengan hiruk pikuk pembicaraan di…