Ginanjar Rahmawan Ginanjar Rahmawan
Kamis, 6 Juli 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Belajar dari Drama Korea, Triple C-ABG Ekonomi Kreatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (5/7/2017). Esai ini karya Ginanjar Rahmawan, dosen Kewirausahaan dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di STIE Surakarta sekaligus mahasiswa Program Doktor Pengembangan Bisnis Kecil/UMKM di Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah grahmawan@gmail.com. 

Solopos.com, SOLO–Peta ekonomi dunia kini memasuki tahapan keempat. Kreativitas menjadi primadona kekuatan ekonomi. Gelombang pertama kekuatan ekonomi dipegang sektor pertanian. Gelombang kedua didominasi industri.

Gelombang ketiga menjadikan informasi sebagai sektor utama. Gelombang ekonomi kreatif akhir-akhir ini dirasakan berbagai negara. Ekonomi kreatif adalah ekonomi yang bertumpu pada gagasan-gagasan sebagai pemicu ide yang diproduksi oleh sumber daya manusia.

Sebagai bahan produksi/rawmaterials, ide dan gagasan ini tak akan habis. Ekonomi baru ini mementingkan peran gagasan dan ide sebagai faktor penentu utama dalam produksi. Korea Selatan saat ini sukses menjadikan industri kreatif sebagai penopang ekspor di Asia maupun pasar internasional.

Korean Wave atau Hallyu adalah fenomena industri kreatif Korea Selatan yang melanda seluruh dunia secara besar-besaran. Semenjak krisis ekonomi 1997 pemerintah Korea Selatan memutar otak untuk meingkatkan perekonomian mereka yang saat itu turun lebih dari 20%.

Pemerintah Korea Selatan berkomitmen mengekspor budaya ke dunia melalui perfilman dan musik. Pemerintah Korea Selatan mendorong industri film dan musik negeri itu berproduksi secara besar-besaran dan mengutamakan kualitas yang dipadukan dengan unsur kebudayaan.

Hallyu tak hanya berhenti di film, namun juga berimbas pada fesyen yang diusung di film dengan pemeran artis yang selalu ganteng dan cantik. Korea Selatan juga menggarap musik sebagai komoditas ekspor.

Dampaknya adalah wisatawan berbondong-bondong berkunjung ke Korea Selatan untuk melihat kebudayaan negeri itu dan melihat lokasi pengambilan adegan drama kesukaan mereka. Ini jelas menjadi efek positif pada pendapatan domestik bruto (PDB) Korea Selatan.

Imbasnya adalah tergeraknya sektor lain seperti kuliner, penginapan, dan kerajinan tangan. Kini pendapatan tahunan Korea Selatan sampai Rp1.700 triliun lebih dari sektor ekonomi kreatif.

Malaysia juga memproduksi film animasi yang sangat terkenal di Indonesia, Ipin dan Upin. Beberapa animatornya dari Indonesia. Film animasi ini mejadi pilihan utama anak-anak. Malaysia berhasil menyebarkan kebudayaan Melayu yang kental terdengar pada dialog dalam film yang ditirukan anak-anak kita.

Keberhasilan ini merupakan salah satu upaya pemerintah Malaysia yang membentuk Multimedia Creative Conten Center untuk mendorong animator di Malaysia bersaing di pasar global.

Selanjutnya adalah: Pemerintah Malaysia memberikan pinjaman modal…

The jagongan, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL TERIOS TS’2008,Mulus/Gagah R18,Comp AC Baru,Silver,125JtNego, Hub=085640166830 (A001…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Kemanusiaan Keluarga Polk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/9/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO¬†— Persekusi terhadap warga Rakhine etnis Rohingya di Myanmar…