Heri Priyatmoko Heri Priyatmoko
Minggu, 25 Juni 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Lebaran dan Wartawan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (23/6/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO–Lebaran tinggal menghitung jam. Semua sibuk menyambut. Tak terkecuali barisan juru warta. Sejak memasuki Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri, awak pers berjibaku menyuguhkan informasi kepada pembaca.

Para jurnalis rajin memantau harga pasar pada Bulan Puasa, melongok aktivitas ibadah di masjid, mengamati arus lalu lintas, memelototi terminal dan stasiun serta bandara, hingga mengupas persiapan para pemudik.

Puncaknya adalah jajaran redaksi pers mengucapkan ”selamat Hari Raya Idulfitri” kepada segenap pembaca. Itu menjadi tradisi. Muncul pertanyaan, sejak kapan ”tradisi” tersebut dikerjakan oleh tim redaksi media massa atau pers?

Berdasar penelusuran saya salah satu media massa yang melakukan itu adalah Harian Asia Raya. Redaksi pers ini beralamat di Yamoto Basi Kita Doori 5 Jakarta. Guru besar sejarah di Universitas Gadjah Mada, Bambang Purwanto (2013), memaparkan media ini merupakan sebagian dari simbol kekuasaan kolonial dan imperialisme Jepang di Nusantara seiring meledaknya Perang Dunia II.

Koran tersebut justru terbit dengan edisi ”Nomor Terachir” pada Jumat Paing, 7 September 2605 (1945), alias sehari sebelum Lebaran. Dalam edisi Asia Raya Minta Diri yang hanya terdiri hanya satu halaman itu tersembul alasan subjektif dan mendesak sehingga muncul keputusan menyudahi penerbitan Asia Raya.

Pemimpin Redaksi R. Sukarjo Wiryopranoto lewat kolom Kata Penutup membeberkan, Asia Raya yang mencerminkan suara rakyat Indonesia sekaligus corong pemerintah pendudukan Jepang menghadapi kesukaran memanggul tugas.

Mula-mula misi penerbitan Asia Raya bertali temali dengan impian bala tentara Dai Nippon dan bangsa Indonesia yang bergandengan tangan di medan perang Asia Timur Raya. Sebagai “saudara tua” dan “saudara muda”, mereka bersumpah sehidup semati di medan perang.

Tiba-tiba Jepang angkat tangan kepada tentara Sekutu lalu diikuti proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ini mengakibatkan relasi Indonesia dan Jepang berantakan. Buahnya adalah tak ada lagi yang harus disuarakan Asia Raya.

Selanjutnya adalah: Pada detik-detik koran tumbang….

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…