Kepala UPTD Disnakan Kecamatan Sragen Trieyono (kanan) memeriksa kualitas daging segar asal Boyolali di Pasar Bunder Sragen, Senin (19/6/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Kepala UPTD Disnakan Kecamatan Sragen Trieyono (kanan) memeriksa kualitas daging segar asal Boyolali di Pasar Bunder Sragen, Senin (19/6/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Senin, 19 Juni 2017 21:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

RAMADAN 2017
Sidak di Pasar Bunder, Tim Disnakan Sragen Temukan Hati Sapi Bercacing

Ramadan 2017, tim Disnakan menemukan hati sapi bercacing saat sidak di Pasar Bunder.

Solopos.com, SRAGEN — Tim Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Sragen menemukan cacing pada hati sapi yang dijual di Pasar Bunder saat inspeksi mendadak (sidak) daging sapi dan daging ayam di pasar tradisional tersebut, Senin (19/6/2017).

Tim Disnakan hanya mengingatkan pedagang daging sapi agar tidak menjual hati yang mengandung cacing jenis Fasciola hepatica itu. Tim Disnakan Sragen yang terdiri atas empat orang tersebut dipimpin Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakan Sragen, Jayanto.

Dalam tim tersebut ada seorang dokter hewan Zahro dan Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Disnakan Kecamatan Sragen Trieyono. Mereka bergerak menyisir setiap pedagang mulai dari pintu selatan pasar induk terbesar di Sragen itu sampai ke los khusus daging di dekat pintu sisi timur.

Kepala UPTD Disnakan Kecamatan Sragen Trieyono mencurigai ada sesuatu pada hati sapi yang dijual di kios daging milik Rudi, 49, warga Sragen Kota. Dia mengambil pisau dan memotong bagian hati yang berwarna agak kehitaman.

Setelah dicek potongan itu, Trieyono menemukan ada cacingnya. Bahkan dia mengeluarkan cacing itu dari persembunyiannya di dalam hati itu. Warna cacingnya hampir menyerupai warna hati sapi tu.

Rudi kaget dengan temuan itu. Dia tidak mengira ada kandungan cacing dalam hati sapi yang dijualnya. “Jujur saya tidak tahu ada kandungan cacingnya. Saya biasa menyembelihkan sapi di RPH [Rumah Pemotongan Hewan] Batoar, Nglangon, Sragen. Kebetulan saya memotong dua ekor sapi. Tetapi betul-betul tidak tahu. Nanti hati yang ada cacingnya tidak saya jual,” katanya saat ditanya petugas.

Trieyono tidak berhenti di kios milik Rudi. Dia juga memeriksa hampir semua kios dan los daging di Pasar Bunder tetapi tidak menemukan kasus tambahan. Dia justru menemukan daging asal Boyolali yang dijual di Pasar Bunder Sragen dengan harga sedikit miring, yakni Rp80.000-Rp95.000/kg. Padahal harga daging sapi di pedagang lainnya rata-rata Rp95.000/kg.

Salah satu pedagang asal Sukorejo, Sragen Tengah, Mira, 38, berani menjual dengan harga Rp100.000/kg. “Saya ambil daging dari lima jagal dan memilih daging dengan kualitas super. Harga Rp100.000/kg itu terhitung naik Rp5.000/kg sejak Minggu [18/6/2017] lalu. Kalau saya sehari hanya habis 70 kg-125 kg,” tuturnya saat ditanya Solopos.com, Senin.

Trieyono menjelaskan kandungan cacing pada hati sapi itu sebenarnya bisa dideteksi dari fisik sapi saat belum disembelih. Biasanya kandungan cacing itu, ujar dia, terdapat pada sapi yang digembalakan bukan sapi yang digemukkan.

Sapi-sapi yang digembalakan di tempat pembuangan akhir (TPA), kata dia, belum tentu ada kandungan cacing tetapi ada kandungan plastik pada lambung dan ususnya. “Cacing hati sapi itu sebenarnya tidak berbahaya karena saat daging direbus cacing itu sudah mati. Hanya saja kandungan cacing itu membuat jijik. Deteksi cacing pada sapi hidup itu bisa dilihat berdasarkan kondisi bulu sapi kusam. Tubuhnya kering kurus tetapi perutnya buncit. Nafsu makan sapi itu tinggi tetapi tidak berpangaruh pada berat badannya,” ujar Trieyono yang dibenarkan drh Zahro saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela sidak.

Kasi Kesmavet Disnakan Sragen, Jayanto, menyampaikan hasil sidak di Pasar Bunder ini secara umum baik. Jayanto memastikan daging yang dijual di Pasar Bunder memenuhi standar aman, sehat, utuh, dan halal plus layak untuk dikonsumsi.

lowongan pekerjaan
PD.BPR BANK BOYOLALI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
”Akad” Populer karena Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/10/2017). Esai ini karya Romensy Augustino, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah romensyetno@yahoo.com. Solopos.com, SOLO – -Youtube adalah salah satu media sosial yang menjadi rujukan…