Sohidin Sohidin
Minggu, 18 Juni 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
PPDB di Tengah Anomali Sosial

Kurang jeli

Pemerintah tampaknya kurang jeli melihat peluang bagi perilaku negatif masyarakat yang muncul dari aturan baru tersebut. SKTM bisa dibuat tak sesuai fakta, palsu atau fiktif, dengan menyuap pejabat di lingkungan rukun tetangga/rukun warga (RT/RW) atau kelurahan.

Inilah sisi lemah regulasi yang dimanfaatkan sebagian orang yang merasa terbatasi oleh kebijakan dan aturan baru itu. Peluang perilaku negatif itu “berbuah” bisa terjadi kala panitia penerimaan siswa baru tidak teliti atau panitia permisif menerima suap atau memperjualbelikan kursi.

Hal ketiga ini  sangat kecil peluangnya karena sistem online sebenarnya  telah mengeliminasi berbagai perilaku moral hazard. Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah yang kurang teliti dalam membuat kebijakan atau masyarakat sebagai objek kebijakan dan aturan baru.

Alangkah baiknya kita menganalisis fenomena tersebut dari sisi kebutuhan dan keinginan.  Panitia PPDB membutuhkan input calon siswa sesuai aturan dan kebijakan nasional dan daerah yang diberlakukan secara regional.

Harapannya  dengan aturan baru itu input calon siswa tetap mengutamakan kualitas dan tidak sekadar kuantitas. Kebutuhan tersebut tampaknya tidak mudah diwujudkan terutama ketika kebutuhan itu dihadapkan dengan masyarakat yang cenderung mengutamakan keinginan.

Sebagian masyarakat yang diuntungkan dengan aturan baru tersebut mersepons positif dan  cenderung tidak berperilaku negatif. Kelompok masyarakat lain yang merasa dibatasi bahkan dirugikan dengan aturan baru tersebut dengan cepat meresponsnya dengan berbagai sikap dan tindakan yang cenderung  negatif.

Solopos edisi 15 Juni 2017 memberitakan ada orang tua siswa yang  mengeluarkan banyak uang untuk membayar lembaga bimbingan belajar dengan harapan anaknya yang belajar di lembaga itu bisa lolos masuk sekolah favorit yang diinginkan, namun kemudian malah memiskinkan diri dengan membuat SKTM.

Selanjutnya Ironis ketika datang mendaftarkan diri…

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…