Mobil melintasi jalan tol Solo-Sragen dari arah timur di kawasan Gondangrejo, Karanganyar, Jumat (8/7/2016). Jalan tol mulai dibuka satu jalur dari arah Sragen menuju Solo pada H+2 untuk menunjang kelancaran arus balik Lebaran 2016. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos) Mobil melintasi jalan tol Solo-Sragen dari arah timur di kawasan Gondangrejo, Karanganyar, Jumat (8/7/2016). Jalan tol mulai dibuka satu jalur dari arah Sragen menuju Solo pada H+2 untuk menunjang kelancaran arus balik Lebaran 2016. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Sabtu, 17 Juni 2017 07:00 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

Dipakai Mudik Lebaran, Pembangunan Tol Solo-Ngawi Dihentikan Sementara mulai Hari Ini

Pembangunan tol Solo-Ngawi dihentikan sementara per hari ini karena jalurnya akan dipakai arus mudik Lebaran.

Solopos.com, KARANGANYAR — Pekerjaan pembangunan jalan tol Solo-Ngawi dihentikan sementara mulai Jumat (16/6/2017). Hal itu menyusul akan digunakannya jalur tol itu untuk arus mudik Lebaran.

Pejabat Humas PT Waskita Karya, Sarjani, menyampaikan konsentrasi pekerjaan saat ini adalah menyelesaikan pemasangan rambu-rambu dan pos pengamanan (pospam). “Pekerja sudah off mulai hari ini [Jumat]. Pekerjaan berhenti sementara waktu. Sekarang masuk persiapan finishing rambu-rambu, pembangunan pos-pos di area tol,” kata Sarjani saat dihubungi Solopos.com, Jumat.

Sarjani membenarkan median jalan di depan pintu tol Ngasem sudah dibongkar. Fungsi median jalan digantikan water barrier. Dia menyampaikan water barrier akan dibuka pada kondisi tertentu. (Baca juga: Pintu Keluar Tol Soker Digeser dari Paldaplang ke Widodaren)

“Itu sudah dibongkar dan diganti pakai water barrier. Kondisi tertentu [water barrier] akan dibuka. Misalnya, crowded di putaran jalan nasional, dan lain-lain,” ujar Sarjani.

Hal senada disampaikan Kasatlantas Polres Karanganyar, AKP Ahdi Rizaliansyah, mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak. Ahdi menjelaskan fokus rekanan pada H-10 Lebaran adalah memfungsikan jalan tol Solo-Ngawi.

Salah satu langkahnya adalah melengkapi rambu, lampu alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL), pembersihan jalan, dan lain-lain. Ahdi juga menjelaskan perihal pembongkaran median jalan di depan pintu tol Ngasem.

“Median jalan dibongkar lalu diganti water barrier. Itu akan dibuka situasional, yaitu mempertimbangkan volume kendaraan,” tutur dia kepada Solopos.com, Jumat.

Rekayasa lalu lintas lainnya di sekitar pintu tol Ngasem adalah pemberian rambu penyempitan jalan 100 meter sebelum pintu tol. Rambu peringatan itu diletakkan pada jalur dari Kartasura maupun Boyolali. Selain pemasangan rambu peringatan, polisi akan menempatkan sejumlah personel di dekat pintu tol Ngasem.

Ahdi menyebut minimal enam anggota berjaga di lokasi tersebut. “Jalannya menyempit sebelum pintu tol Ngasem. Ada 100 meter sebelum masuk tol. Makanya ada rambu supaya kendaraan memperlambat laju dari Semarang atau Kartasura. Pembongkaran median itu juga antisipasi kalau ada kendaraan dari DIY masuk tol lewat Ngasem,” jelas dia.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, rekanan maupun polisi mengupayakan pemudik mendapatkan kenyamanan dan keamanan selama melalui jalan tol. Salah satu caranya, menempatkan montir roda dua setiap lima kilometer.

Ahdi menyampaikan montir roda dua ditunjuk kepolisian. Mereka dari Mitsubishi, Nasmoco, dan Suzuki. “Ada kesepakatan lain. Tol ditutup pukul 17.00 WIB. Itu akan diperpanjang setengah jam atau hingga 17.30 WIB dengan catatan masih ada kendaraan di tol sampai jam 17.00 WIB. Nah, unit patroli bekerja sama dengan PT SNJ akan menyisir jalur. Apakah masih ada mobil. Selain menyisir menjelang tutup, tugas mobil patroli adalah mengecek jalur setiap dua jam.”

 

lowongan kerja
lowongan kerja NUPEST CONTROL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Meneguhkan Pancasila

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Sabtu (3/6/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah yang kini menjabat Rektor Institut Agama Islam Negeri Surakarta Solopos.com, SOLO¬†— Pancasila sedang dikaji kembali makna dan efektivitasnya sebagai dasar negara. Sebagai ideologi, hidup mati Pancasila sangat bergantung…