Bendungan Irobayan di Desa Gagak Sipat kondisinya sangat memprihatinkan karena sedimen cukup tinggi dan banyaknya semak belukar. Foto diambil Rabu (14/6/2017). (Aries Sunsanto/JIBI/Solopos) Bendungan Irobayan di Desa Gagak Sipat kondisinya sangat memprihatinkan karena sedimen cukup tinggi dan banyaknya semak belukar. Foto diambil Rabu (14/6/2017). (Aries Sunsanto/JIBI/Solopos)
Kamis, 15 Juni 2017 13:55 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PERTANIAN BOYOLALI
Sedimen Bendungan Irobayan Kian Memprihatikan

Pertanian Boyolali terkait irigasi dari Bendungan Irobayan terganggu oleh sedimentasi di bendungan tersebut.

Solopos.com, BOYOLALI– Saluran irigasi di Bendungan Irobayan di Desa Gagak Sipat, Ngemplak, kondisinya sangat mengenaskan. Sedimentasi dan tanaman belukar tumbuh lebat di dalam saluran irigasi tersebut hingga nyaris tanpa air tersisa.

Pantauan Espos di lokasi, Rabu (14/6), sedimentasi Bendungan Irobayan nyaris menyerupai pulau tak berpenghuni. Semak belukar dan tanaman pisang tumbuh lebat. Hal itu terlihat kasat mata tak jauh dari kantor Koordinator Perwakilan Balai (Koperbal) Pengawas Sumber Daya Air (PSDA) Cemoro. Tak hanya itu, limbah-limbah industri tahu dari rumah tangga juga mengalir ke saluran itu. Akibatnya, kondisi sungai kian memprihatinkan.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengelola Air (GP3A) Tri Mandiri, Samidi, ketika dimintai konfirmasi ihwal itu membenarkannya.

Menurutnya, pasca-Lebaran sedimentasi dan semak belukar yang menutupi aliran irigasi dari Waduk Cengklik itu akan segera dikeruk. “Kami dijanjikan setelah Lebaran nanti, Irobayan akan dikeruk. Kondisinya memang sudah sangat memprihatinkan,” terangnya kepada Solopos.com, Rabu (14/6/2017).

Samidi mengungkapkan dana perbaikan dan pengerukan sedimentasi ditaksir senilai Rp800 juta. Dana itu diambilkan dari bantuan Water and Irrigation Sector Managemment Program Phase (WISMPP). WISMPP merupakan lembaga penyalur bantuan bank dunia untuk program stimulasi terhadap kemampuan lembaga dan institusi pelaksana pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

“GP3A dapat kucuran Rp800 juta untuk perbaikan irigasi Irobayan sepanjang 200-an meter. Bantuan itu sudah diajukan sejak beberapa tahun lalu,” ujarnya.

GP3A, lanjutnya, telah mulai mengidentifikasi permasalahan saluran irigasi, antara lain tingginya sedimentasi yang dan kerusakan bangunan. Identifikasi dimulai dari saluran irigasi Irobayan sampai ke hulu sepanjang 1 km. Sejumlah kerusakan saluran irigasi akan dicor kembali. Sementara, masalah sedimentasi akan dikeruk dengan alat berat backhoe.

“Karena anggarannya hanya Rp800 juta, perbaikan baru sepanjang 200-an meter,” tambahnya.

Samidi memprediksi dana untuk perbaikan saluran irigasi dari hulu Waduk Cengklik hingga hilir di Desa Giriroto minimal menelan anggaran Rp50 miliar. Panjang saluran yang diperbaiki itu ialah 38 km.

“Ini program jangka menengah sebab anggarannya sangat besar,” tambahnya.
Berdasarkan data yang dimiliki GP3A, total panjang saluran irigasi dari Waduk Cengklik mencapai sekitar 38 km. Saluran itu terdiri dari pintu Waduk sebelah kiri, sebelah kanan, dari Irobayan, dan Watu Leser. Saluran terpanjang berada di pintu Waduk Cengklik sebelah kiri yang mencapai 17 km dan pintu Waduk sebelah kanan mencapai 10 km.

 

Lowongan Pekerjaan
PT. Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Isu Kemiskinan di Jawa Tengah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (8/8/2017). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.  Solopos.com, SOLO–Pemilihan gubernur Jawa Tengah 2018 telah memanas dengan munculnya sejumlah kandidat dari sejumlah…