Suasana Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA tahun ajaran 2017/2018 di SMAN 3 Sukoharjo, Rabu (14/6/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos) Suasana Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA tahun ajaran 2017/2018 di SMAN 3 Sukoharjo, Rabu (14/6/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)
Rabu, 14 Juni 2017 18:35 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

PENDIDIKAN SUKOHARJO
Ikut PPDB Online Sekolah Favorit, 2 Calon Siswa Baru Pakai SKTM Fiktif

Pendidikan Sukoharjo, dua calon siswa baru diduga menggunakan SKTM fiktif.

Solopos.com, SUKOHARJO — Dua calon siswa baru diduga membuat surat keterangan tidak mampu (SKTM) fiktif saat mendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMAN tahun ajaran 2017/2018. Mereka membuat SKTM fiktif agar bisa diterima di sekolah favorit dari kuota keluarga miskin (gakin).

Sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Tengah No. 9/2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada SMAN dan SMKN menyebutkan kuota calon siswa baru dari kalangan keluarga tidak mampu minimal 20 persen. Para siswa gakin wajib menyertakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan atau SKTM saat mendaftar sebagai peserta PPDB online.

Hal ini menjadi celah bagi orang tua/wali murid yang mampu dengan membuat SKTM fiktif. Surat itu harus ditandatangani kepala desa/lurah dan diketahui camat setempat.

“Saya menerima laporan ada dua calon siswa baru yang membuat SKTM fiktif. Mereka mendaftar ke sekolah favorit di Sukoharjo,” kata Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Sukoharjo, Sukamto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (14/6/2017).

Kedua calon siswa baru itu masing-masing mendaftar ke SMAN 1 Sukoharjo dan SMAN 3 Sukoharjo. Panitia PPDB lantas memanggil orang tua calon siswa baru ihwal kasus dugaan SKTM fiktif itu.

Mereka dimintai klarifikasi apakah kondisi perekonomian keluarga mereka benar-benar miskin atau tidak. Ternyata, mereka merupakan kalangan menengah ke atas dengan kondisi perekonomian cukup mapan.

“Mereka mengaku punya mobil, rumah bagus, dan penghasilan setiap bulan cukup besar. Mereka akhirnya mencabut berkas pendaftaran PPDB dari gakin lantaran tak termasuk kategori warga miskin,” papar Sukamto.

Kepala SMAN 3 Sukoharjo ini menjelaskan tak menutup kemungkinan kasus serupa terjadi di sekolah negeri lain di Sukoharjo. Apabila ada calon siswa baru yang membuat SKTM fiktif bisa diseret ke ranah hukum.

Lebih jauh, Sukamto menjelaskan sekolah favorit di Sukoharjo diburu para calon siswa baru dari gakin dibanding sekolah pinggiran. “Jumlah calon siswa baru gakin di SMAN 3 Sukoharjo lebih dari 90 siswa, SMAN 1 Sukoharjo sekitar 120 siswa. Sementara jumlah calon siswa baru di SMAN Weru hanya 11 siswa.”

Sementara itu, orang tua salah satu pendaftar PPDB di SMAN 1 Sukoharjo, Hafidh Sunaryo, menyoroti kebijakan kuota calon siswa baru gakin minimal 20 persen. Hal ini berdampak pada tipisnya peluang calon siswa baru yang mempunyai nilai akademik tinggi diterima di sekolah favorit.

Siswa gakin bakal berbondong-bondong mendaftar ke sekolah favorit lantaran peluang diterima terbuka lebar. “Kuota siswa dari kalangan gakin cukup besar. Siswa pintar belum tentu diterima di sekolah favorit karena harus bersaing dengan siswa lainnya. Sementara siswa gakin kemungkinan besar langsung diterima karena jatah kuotanya cukup besar,” kata dia.

 

lowongan kerja
lowongan kerja PBF di sukoharjo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Generasi Y dalam Birokrasi

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Selasa (13/6/2017). Esai ini ditulis oleh Tiyas Nur Haryani, dosen di Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah tiyasnur@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Belum banyak tulisan dan penelitian…