Sebuah posko pam Lebaran berdiri di sisi selatan Jl. Raya Sragen-Ngawi, Pilangsari, Ngrampal, Sragen, Senin (12/6/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Sebuah posko pam Lebaran berdiri di sisi selatan Jl. Raya Sragen-Ngawi, Pilangsari, Ngrampal, Sragen, Senin (12/6/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 13 Juni 2017 00:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

MUDIK LEBARAN 2017
Para Buruh di Sragen Bekerja Lembur Membangun Posko Lebaran

Posko Lebaran 2017 sudah mulai dibangun di sejumlah lokasi di Sragen.

Solopos.com, SRAGEN — Bangunan semipermanen itu berdiri di pinggir jalan Sragen-Ngawi, Pilangsari, Ngrampal, Sragen, sejak Kamis (8/6/2017) lalu. Bangunan dengan konstruksi kajang dan berdinding tripleks itu berukuran 8 meter x 4 meter.

Tiga orang buruh bangunan sibuk memoles bangunan itu dengan cat agar terlihat bersih. Bangunan itu akan digunakan sebagai pos koordinasi pengamanan (Posko Pam) arus balik dan arus mudik Lebaran 2017.

Widodo, 38, warga Jenggrik, Kedawung, sibuk mengecat lantai. Lantai cor itu dicat berwarna hijau daun. Sementara dinding tripleks itu dicat putih dan lis warna biru di bagian bawahnya.

Pada dinding samping dan depan dibuat variasi cat warna biru dan putih bergaris-garis miring. “Kami mengerjakan pembangunan posko ini sejak pekan lalu. Ya, targetnya sepekan ke depan harus selesai. Kami harus kerja lembur terus sampai pukul 22.00 WIB,” ujar Widodo saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (12/6/2017) siang.

Pekerjaan Widodo dan kedua temannya yang berat dan panas membuat mereka tidak berpuasa. Lebih dari 50% pekerjaan pembuatan poskopam Lebaran itu sudah selesai. Widodo menyampaikan tinggal memasang variasi di bagian depan.

Modelnya seperti Lebaran tahun lalu yang dibuat seperti bentuk masjid. “Rencananya semua posko mulai dari Gemolong sampai Tunjungan akan diseragamkan,” ujarnya.

Posko itu dibuat dengan anggaran dari Polres Sragen. Setidaknya ada lima posko yang dibangun Polres Sragen, yakni Posko Gemolong, Nguwer, Pilangsari, Tunjungan, dan posko terpadu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Widodo dan kedua temannya mendapat upah harian kendati pekerjaan itu dilaksanakan secara borongan. Setiap harinya, Widodo mendapat upah Rp150.000 per orang. Upah tersebut sudah termasuk upah lembur. “Kalau tanpa lembur ya sampai Rp100.000 per orang,” tambahnya.

Di saat Widodo sibuk mengecat, tiba-tiba Amir, 42, warga Mojokerto, Kedawung, Sragen, datang. “Nanti lampunya dipasang sekalian ya!” ujarnya kepada Widodo.

Amir merupakan mandor atas pekerjaan posko itu. Kendati sebagai mandor proyek, ia juga ikut terlibat dalam pekerjaan itu. Ia menyiapkan sejumlah fasilitas pelengkap di posko itu.

Sejumlah kabel bekas, lampu hias, dan lampu pijar dikeluarkan dari kardus yang dibawanya. Lampu-lampu dan kabel itu merupakan bekas posko Lebaran tahun lalu.

“Kalau saya barang-barang seperti ini saya rawat karena hampir setiap tahun pasti digunakan. Kalau tidak dirawat kan setiap ada posko baru harus beli baru. Jadinya boros,” ujarnya.

Posko itu nantinya juga dilengkapi dengan televisi karena Amir sudah menyiapkan antena televisi. Untuk ruang pelayanan medis sudah disiapkan bilik berukuran 3 meter x 2 meter di sisi timur posko. Posko itu akan ditempati tim terpadu dari Polres, Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), dan stakeholders terkait lainnya.

 

Lowongan Pekerjaan
PT. Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Isu Kemiskinan di Jawa Tengah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (8/8/2017). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.  Solopos.com, SOLO–Pemilihan gubernur Jawa Tengah 2018 telah memanas dengan munculnya sejumlah kandidat dari sejumlah…