Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto (kedua dari kiri) mengecek proyek Jl. Gentanbanaran-Karang, Plupuh, Sragen, yang tak kunjung dikerjakan, Selasa (13/6/2017) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos) Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto (kedua dari kiri) mengecek proyek Jl. Gentanbanaran-Karang, Plupuh, Sragen, yang tak kunjung dikerjakan, Selasa (13/6/2017) siang. (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Selasa, 13 Juni 2017 23:35 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

INFRASTRUKTUR SRAGEN
Proyek Perbaikan Jalan di Plupuh Mangkrak, DPRD Sentil OPD

Infrastruktur Sragen, anggota DPRD melakukan inspeksi ke proyek perbaikan jalan di Plupuh yang mandek.

Solopos.com, SRAGEN — Mangkraknya proyek peningkatan jalan Gentanbanaran-Karang, Plupuh, Sragen, selama sebulan sejak ground breaking (peletakan batu pertama), memantik keprihatinan Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto.

Politikus PDIP tersebut tak habis pikir kenapa preseden buruk itu bisa terjadi di tengah isu sensitif kerusakan infrastruktur jalan Sragen. “Mestinya di tengah isu sensitif kerusakan infrastruktur ada kepekaan untuk menjaga perasaan rakyat. Salah satunya dengan menunjukkan iktikad dan usaha sungguh-sungguh memperbaiki kerusakan yang ada. Lah saya tidak melihat sensitivitas itu di proyek ini,” ujar Totok, panggilan akrab dia, saat diwawancarai wartawan seusai sidak ke lokasi proyek jalan Gentanbanaran-Karang, Selasa (13/6/2017) siang. (Baca juga: Sebulan Setelah Ground Breaking, Jalan di Plupuh Tak Kunjung Dikerjakan)

Dia menilai mestinya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengawasi ketat proses perbaikan jalan begitu dilakukan ground breaking. Dengan begitu pengerjaan fisik bisa berjalan sesuai schedule atau tahapan yang ditentukan.

“Kalau begini kan sayang jadinya. Waktu sebulan terbuang sia-sia. Kalau dikerjakan sudah lumayan itu,” imbuh dia.

Totok mengaku akan mengecek proyek-proyek fisik 2017 yang beberapa waktu lalu telah dilakukan ground breaking. Dia tidak ingin proyek-proyek tersebut juga tak kunjung dikerjakan.

Padahal sudah ada kontraktor atau pemenang lelang proyek. “Jangan sampai rakyat hanya di PHP. Mesti ada mekanisme pengawasan” kata dia.

Penuturan senada disampaikan legislator Dapil II Sragen yang meliputi Plupuh, Gemolong, dan Kalijambe, Sutimin, yang juga ikut sidak proyek jalan Gentanbanaran-Kalijambe. Dia geregetan lantaran sebulan tak ada kelanjutan dari groundbreaking sebelumnya. Apalagi warga mengejar ngejar agar proyek segera dimulai.

“Saya juga dikejar kejar masyarakat sebab warga kan tidak tahu yang mengerjakan proyek kontraktor atau seperti apa mekanismenya. Mereka tahunya ya DPRD nya ini bisa kerja atau tidak. Jadi saya minta kontraktornya segera bekerja lah. Jangan ditunda-tunda lagi, kasihan masyarakat Plupuh,” kata dia.

Sutimin mengatakan warga sudah jengah dengan kondisi infrastruktur jalan yang rusak. Selama bertahun-tahun mereka beraktivitas dalam kondisi infrastruktur yang tidak mendukung.

Modin Gentanbanaran, Paino Nur Arifin, menuturkan warga sempat akan membongkar cor-coran jalan sisa seremonial ground breaking. Alasannya, tak ada kelanjutan proyek, dan keberadaan cor-coran mengganggu pengguna jalan.

Warga akhirnya berinisiatif memasang uruk tanah di ujung cor-coran agar kendaraan bisa melintas. “Walah mpun ajeng didongkel niki mean. Masalahe mboten ndang didandosi. Warga nyuwun dalane ndang dicor supados alus [Sudah mau didongkel ini malahan. Masalahnya tidak kunjung diperbaiki. Warga minta jalan segera dicor halus],” ujar dia kepada wartawan.

LOWONGAN KERJA
DR. NORMA AESTHETIC CLINIC, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Ramadan di Bumi Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/6/2017). Esai ini karya M. Zainal Anwar, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah zainalanwar@gmail.com Solopos.com, SOLO–Di bawah ideologi Pancasila, menjalani puasa Ramadan di Indonesia menyajikan kemewahan luar…