Ketua Banser Boyolali M. Abdullah (kedua dari kanan) berorasi dalam aksi damai membela Pancasila dan NKRI di kawasan Patung Soekarno kompleks perkantoran baru Boyolali, Senin (12/6/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Ketua Banser Boyolali M. Abdullah (kedua dari kanan) berorasi dalam aksi damai membela Pancasila dan NKRI di kawasan Patung Soekarno kompleks perkantoran baru Boyolali, Senin (12/6/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Selasa, 13 Juni 2017 18:15 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

DEMO BOYOLALI
300 Orang Ikuti Aksi Damai Bela NKRI dan Pancasila

Demo Boyolali, 300-an orang mengikuti aksi damai membela NKRI.

Solopos.com, BOYOLALI — Sekitar 300 orang dari berbagai elemen di Boyolali menggelar aksi damai membela Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di kawasan Patung Soekarno kompleks perkantoran baru Boyolali, Senin (12/6/2017).

Elemen tersebut di antaranya Nahdlatul Ulama (NU) Boyolali, Banser, GP Anshor, Fatayat, Pemuda Pancasila (PP), komunitas pemilik N-Max Boyolali dan sebagainya. Sebagian perwakilan elemen peserta secara bergantian menyampaikan orasi.

Mereka di antaranya menyerukan NKRI adalah harga mati dan Pancasila tidak dapat digantikan dengan ideologi apa pun. “NKRI harga mati. Pancasila tidak bisa ditawar lagi,” teriak salah satu peserta disambut pekik peserta lainnya.

Ketua Banser Boyolali M. Abdullah menebarkan semangat persatuan. Menurutnya, semangat persatuan yang seharusnya dimiliki bangsa Indonesia adalah ketika merebut kemerdekaan.

“Kemerdekaan Indonesia ini diperjuangkan seluruh rakyat Indonesia, oleh seluruh agama, oleh seluruh suku bangsa dan sebagainya,” kata ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Musyawarah Pimpinan Cabang (MPC) PP Boyolali Fauzan mengatakan aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap semua bentuk radikalisme. “Menolak setiap gerakan radikalisme, intoleransi, dan persekusi dalam bentuk apa pun di seluruh penjuru Nusantara, karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945,” tegasnya.

Sebagian peserta aksi juga membawa berbagai poster yang bertuliskan semangat persatuan. Aksi yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa itu berjalan lancar. Puluhan aparat Polres Boyolali berjaga di sekitar lokasi untuk mengamankan jalannya kegiatan.

lowongan pekerjaan
QUALITY CONTROL & ADMIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…