Pengguna jalan melintas di Jembatan Kali Tengah, Miri, Sragen, yang harus direkonstruksi lantaran merupakan jalur utama menuju lokasi yang diproyeksikan dibangun Jembatan Gilirejo Baru. Foto diambil akhir Mei 2017. (Kurniawan/JIBI/Solopos) Pengguna jalan melintas di Jembatan Kali Tengah, Miri, Sragen, yang harus direkonstruksi lantaran merupakan jalur utama menuju lokasi yang diproyeksikan dibangun Jembatan Gilirejo Baru. Foto diambil akhir Mei 2017. (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Senin, 12 Juni 2017 06:35 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

INFRASTRUKTUR SRAGEN
2 Jembatan Harus Direkonstruksi Dulu sebelum Membangun Jembatan Gilirejo Baru

Infrastruktur Sragen, dua jembatan harus direkonstruksi dulu sebelum membangun jembatan menuju Gilirejo Baru.

Solopos.com, SOLO — Dua jembatan di wilayah Kecamatan Miri, Sragen, harus dibongkar dan dibangun ulang atau direkonstruksi bila Jembatan Gilirejo Baru akan dibangun.

Dua jembatan tersebut yaitu jembatan Bangoan-Pringapus dan Jembatan Kali Tengah, Miri. Jembatan Bangoan-Pringapus kondisinya sudah bergeser sehingga berisiko ambrol bila dilalui kendaraan berat.

Selama ini kendaraan bermuatan material harus menurunkan separuh muatan bila akan lewat jembatan itu. Setelah itu kendaraan kembali untuk mengangkut material yang diturunkan sebelumnya. (Baca juga: Camat dan Kades Todong Gubernur soal Pembangunan Jembatan Gilirejo)

Sedangkan kondisi Jembatan Kali Tengah kondisinya masih baik. Tapi posisi jembatan harus dinaikkan untuk menyesuaikan ketinggian tanah di dua ujung jembatan. Bila tidak dinaikkan, kendaraan berat kesulitan melewati jembatan itu.

Kepala Desa (Kades) Gilirejo, Parjo, saat ditemui Solopos.com di kediamannya, Sabtu (10/6/2017), menuturkan jalur menuju lokasi yang diproyeksikan untuk pembangunan Jembatan Gilirejo Baru harus melewati dua jembatan tersebut.

“Jalur utamanya memang harus lewat jalur itu. Kalau tidak ada pembenahan jalur utamanya rekonstruksi dua jembatan tersebut ya kendaraan berat tidak bisa lewat jalur itu. Alternatif jalur lainnya lewat Kacangan, Boyolali. Tapi lebih jauh,” ujar dia.

Parjo mengaku sudah melaporkan kondisi Jembatan Bangoan-Pringapus kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sragen. Tim dari Dinas PUPR sudah melakukan survei dan menghitung volume jembatan tersebut. Tapi belum ada kepastian apakah jembatan itu akan direkonstruksi atau tidak.

Parjo menjelaskan rencana pembangunan Jembatan Gilirejo Baru adalah usulan warga Gilirejo Baru dan Gilirejo lama. Tak sedikit warga Gilirejo yang kerap bepergian ke Gilirejo Baru karena ada urusan. “Warga Gilirejo yang saudaranya tinggal di Gilirejo Baru juga tidak sedikit,” kata dia.

Keberadaan jembatan itu kelak diharapkan bisa memacu pergerakan ekonomi di dua desa. Target akhirnya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Harapan kami ekonomi masyarakat bisa meningkat. Apalagi harga berbagai kebutuhan pokok masyarakat termasuk material bangunan di Gilirejo Baru lebih mahal,” urai dia.

Parjo menerangkan keberadaan jembatan akan membuat waktu dan jarak tempuh dari Gilirejo ke Gilirejo Baru makin pendek. Bila biasanya butuh waktu 20 menit perjalanan memutar lewat Watugede, Boyolali, kelak hanya perlu waktu lima menit menyeberangi jembatan Gilirejo.

Parjo mengaku sudah mengetahui desain gambar jembatan Gilirejo yang nilainya mencapai Rp36 miliar. Mengingat besarnya kebutuhan anggaran, dana pembangunan jembatan akan diusulkan ke APBN. Usulan pembangunan jembatan sebenarnya sudah mencuat lama. Usulan masuk ke musrenbang.

lowongan kerja
lowongan kerja Timbul Jaya Motors, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Masuk SMK Dapat BMW

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (10/6/2017). Esai ini karya Sriyanto Danoesiswoyo, guru di SMKN 3 Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah sriyanto_ds@yahoo.co.id Solopos.com, SOLO —¬†Tahun pelajaran 2016/ 2017 segera berakhir dan penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan sistem…