Ilustrasi serangan kera. dokJIBI/SOLOPOS Ilustrasi serangan kera. dokJIBI/SOLOPOS
Senin, 5 Juni 2017 19:35 WIB Trianto Hery Suryono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

SATWA LIAR SUKOHARJO
Gara-Gara Kera, Puluhan Hektare Lahan di Gentan Bulu Tak Ditanami

Satwa liar Sukoharjo, warga Desa Gentan, Bulu, mulai mewaspadai serangan kera memasuki musim kemarau.

Solopos.com, SUKOHARJO — Kawanan kera di pegunungan selatan Desa Gentan, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, jumlahnya dinilai sudah mengkhawatirkan. Warga lereng pegunungan di desa tersebut tak lagi menanam palawija ataupun tanaman pangan karena pasti akan habis dibabat kawanan kera.

Tanaman yang dibiarkan hidup di lahan milik warga dan pegunungan hanya tanaman keras. Warga berharap ada penanaman pohon jenis buah-buahan agar kawanan kera tak lagi turun gunung dan masuk ke perkampungan warga.

Hartono, 65, warga Dukuh Gentan, Desa Gentan, saat ditemui Solopos.com, Senin (5/6/2017), bercerita kawanan kera turun secara bergerombol. “Saat ini gerombonan kera sudah masuk perkampungan warga Dukuh Gentan. Memang belum sampai ke lahan persawahan pinggir jalan raya tetapi kera-kera itu sudah berkeliaran di kampung,” ujarnya.

Dia mengatakan berbagai tanaman pangan sudah tidak bisa ditunggu hasil panen karena keduluan kawanan kera. “Luas lahan yang ditinggal pemiliknya mencapai puluhan hektare. Semua lahan di pegunungan dekat lokasi wisata Batu Seribu tidak lagi ditanami tanaman pangan. Tanaman yang bisa hidup tinggal tanaman keras yang tidak laku dimakan kera.”

Hartono bercerita naluri kera seperti manusia. Jika ada satu yang terkena tembakan ditangisi dan ditunggu. “Esok harinya kawanan kera marah dan membongkar genting rumah warga. Jumlah kawanan kera sudah tidak bisa dihitung lagi dan anehnya kawanan kera tidak lagi takut terhadap perempuan. Jika seorang perempuan menunggu tanaman pangan atau bahan pangan di halaman rumah sudah tidak digubris kawanan kera. Tidak takut. Demikian juga jika hanya seorang laki-laki yang menunggui, sekitar 50 kera akan turun bersama-sama,” jelasnya.

Dia berharap ada reboisasi tanaman di daerah pegunungan agar kawanan kera tak lagi turun gunung. “Di sini [Gentan] hanya ada enam laki-laki yang tinggal di rumah. Yang lain merantau ke luar kota,” sambung Sunardi, tokoh masyarakat Dukuh Gentan.

Dia mengatakan lahan yang tak produktif menjadi faktor pemuda dan warga Gentan memilih merantau. Menurutnya sampai sekarang belum ada manusia yang dikeroyok kawanan kera tetapi munculnya kawanan kera ke permukiman amat meresahkan warga.

Keluhan serangan kawanan kera juga pernah disampaikan Kades Tiyaran, Sunardi. Menurutnya, belasan hektare (ha) lahan lungguh atau tanah kas perangkat Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, dibiarkan bera karena kalah oleh kawanan kera. Menurutnya, serangan kawanan kera sudah berlangsung bertahun-tahun.

Dia mencontohkan tanah lungguh kadus di Gunungsepikul dan Brenggalan tidak berfungsi sama sekali karena kawanan kera. “Apa pun tanamannya rusak dicabuti dan dimakan kawanan kera. Semua tanah lungguh itu berdekatan dengan pegunungan,” ujarnya.

Dia berharap ada perusahaan yang mau memberikan bantuan bibit sengon. “Lahan lungguh di lereng pegunungan bisa ditanami pohon sengon agar perangkat desa mendapatkan hasil. Bisa juga bantuan bibit tanaman buah untuk ditanam di alas [hutan] agar kawanan kera tidak turun.”

lowonga kerja
lowongan kerja penerbit duta, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Bung Karno, Lenso, Cha Cha Cakrabirawa

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (2/6/2017). Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah titusclurut@yahoo.co.uk Solopos.com, SOLO — Cakrabirawa adalah nama kesatuan pasukan penjaga Istana…