Albertus Rusputranto P.A. Albertus Rusputranto P.A.
Sabtu, 3 Juni 2017 05:00 WIB Ichwan Prasetyo/JIBI/SOLOPOS Kolom Share :

GAGASAN
Bung Karno, Lenso, Cha Cha Cakrabirawa

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (2/6/2017). Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah titusclurut@yahoo.co.uk

Solopos.com, SOLO — Cakrabirawa adalah nama kesatuan pasukan penjaga Istana Kepresidenan dan pengawal Presiden Republik Indonesia. Unit ini bubar bersamaan dengan diturunkannya Soekarno–secara paksa–dari kursi kepresidenan.

Sejak itu citra Cakrabirawa menjadi agak ”miring”, begitu juga semua yang dekat dan berkait dengan Bung Karno (nama populer dan kebanggaan Soekarno).

Pasukan pengawal presiden di negara mana pun pasti orang-orang pilihan. Orang-orang yang terlatih secara fisik dan mental menjaga dan melindungi. Jago bertempur dan loyal terhadap yang dijaga/dikawal, apalagi yang ditugaskan di lingkaran satu. Nyawa taruhannya. Begitu juga Cakrabirawa.

Pasukan Cakrabirawa yang bertugas mengawal Bung Karno adalah unit yang bernama Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Pasukan ini menjadi cukup dekat dengan Bung Karno. Bung Karno adalah pribadi dan pemimpin negara yang unik maka DKP ini pun menjadi pasukan pengawal presiden yang unik pula.

Keunikan detasemen ini, di antaranya, selain mumpuni di profesian sebagai pasukan pengawal presiden, masing-masing anggota juga ”harus” pintar bermain musik. ”Keharusan” ini bertolak dari kesenangan Bung Karno menari Lenso dengan diiringi lagu berirama cha cha.

Komandan DKP, Mangil Martowidjojo, kemudian membentuk band pengawal presiden yang selalu siap kapan saja presiden ingin menari. Awal gagasan pembentukan band ini dimulai ketika Bung Karno menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat, Howard Jones, di Cipanas.

Selepas makan siang, Bung Karno berniat menari lenso. Dia minta tarian lenso ini diiringi musik. Akhirnya Mangil memerintahkan anak buahnya meminjam alat-alat dapur dan menjadikannya ”alat musik” pengiring tari. Bung Karno dengan Ny. Hartini, Howard Jones dengan istri, diikuti staf kedutaan yang hadir menari lenso. Menari bersama, berpasang-pasangan.

Alhasil, alat-alat dapur yang digunakan penyok-penyok semua. Sejak itu Mangil selalu membawa kendang saat bertugas mengawal. Bung Karno suka sekali menari lenso. Hampir pada setiap menerima tamu atau melakukan lawatan, ke mana saja, Bung Karno menyempatkan diri mengajak orang-orang menari lenso.

Selanjutnya: Akhirnya Mangil tidak hanya menyiapkan kendang…

lowongan pekerjaan
CV.ASR MEDIKA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…