Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, memberikan tausiah dalam pengajian Ahad pagi di Gedung MTA Solo, Minggu (28/5/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos) Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, memberikan tausiah dalam pengajian Ahad pagi di Gedung MTA Solo, Minggu (28/5/2017). (M. Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 28 Mei 2017 15:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

Isi Pengajian Ahad Pagi MTA Solo, Ini Pesan Ketua MPR

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, menghadiri dan memberikan tausiah di pengajian MTA Solo.

Solopos.com, SOLO — Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menghadiri pengajian Ahad pagi yang diselenggarakan Majlis Tafsir Al-Quran (MTA) di Gedung Pusat MTA, Jl. Ronggowarsito No. 111A, Kelurahan Timuran, Banjarsari, Minggu (28/5/2017).

Pantauan Solopos.com, rombongan Ketua MPR Zulkifli Hasan hadir di Gedung Pusat MTA sekitar pukul 08.30 WIB. Rombongan lantas dipersilakan singgah di ruang pertemuan tamu.

Di ruangan tersebut, rombongan menyaksikan ceramah yang disampaikan Ketua MTA, Ustaz Ahmad Sukino. Rombongan menyimak ceramah tentang Shalatul Lail melalui tayangan yang ditampilkan menggunakan alat proyektor.

Beberapa menit berselang, rombongan dipersilakan menuju lokasi mimbar. Ketua MPR Zulkifki dipersilakan Ustaz Ahmad Sukino untuk memberikan tausiah.

Zulkifli memberikan tausiah mengenai makna kebinekaan kepada ribuan anggota jamaah MTA dari berbagai daerah yang berkumpul di Gedung Pusat MTA. Dia berharap masyarakat kini tidak terlalu mudah menjustifikasi seseorang atau sebuah kelompok sebagai golongan anti-Pancasila.

Menurut Zulkifli, masyarakat yang termasuk golongan anti-Pancasila adalah mereka yang sama sekali tidak memedulikan atau menghargai hak orang lain. “Sudah beberapa kali janjian dengan Pak Ustaz [Ahmad Sukino] untuk datang tapi meleset terus waktunya. Alhamdulillah kali ini saya bisa bertatap muka. Sekarang masih hangat dan ramai soal Pancasila dan kebinekaan. Dengan mudah orang mengatakan orang ini anti-Pancasila. Orang mengumandangkan takbir juga dikatakan anti-Pancasila. Tidak bisa seperti itu,” kata Zulkifli saat memberikan tausiah di Solo, Minggu.

Zulkifli menyampaikan berdasarkan sila pertama dalam Pancasila, negara Indonesia adalah negara yang bertuhan. Menurut dia, implementasi sila pertama bisa dikatakan berhasil jika masyarakat Indonesia bisa menjalankan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing secara leluasa.

Zulkifli tidak sepakat jika masalah agama, kebangsaan, dan negara dipisah-pisahkan. Semua hal tersebut, menurut dia, justru harus saling melengkapi.

“Kalau umat Islam melaksanakan tindakan secara ajaran agama, itulah pancasilais. Misalnya ingin pemimpin daerah beragama Islam juga, itu hak warga yang dijamin undang-undang. Sangat tidak tepat jika masalah agama, kebangsaan, dan negara dipisah. Justru harus saling melengkapi. Jadi pancasila yang betu bagaimana? Kalau ada rakyat yang tidak berdaya, tidak bisa makan, tidak bisa ke RS, tidak bisa ke sekolah, ada pengajian tapi di gembok atau dipagar, di situ negara harus hadir. Itulah perilaku pemimpin yang pancasilais,” ujar Zulkifli.

Sebelum hadir di Gedung Pusat MTA, Zulkifli mendatangi pengajian MTA di Boyolali. Dia menyesalkan ada pihak-pihak yang keberatan dengan penyelenggaraan pengajian tersebut dengan memasang pagar bambu untuk membatasi akses jamaah. Zulkifli menilai tindakan tersebut justru yang disebut tindakan radikal dan intoleran.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…