Soloraya
Minggu, 21 Mei 2017 - 15:35 WIB

PENDIDIKAN SRAGEN : Akui Khilaf Saat Pukul Murid, Guru SMPN 2 Gemolong Lolos dari Sanksi

Redaksi Solopos.com  /  Suharsih  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - ilustrasi

Pendidikan Sragen, guru SMPN 2 Gemolong yang memukul muridnya bebas dari sanksi.

Solopos.com, SRAGEN — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen turun tangan menyelesaikan kasus pemukulan terhadap lima siswa SMPN 2 Gemolong oleh guru berinisial TN pada Selasa (16/5/2017) lalu.

Advertisement

Kepala Bidang (Kabid) SMP Disdikbud Sragen, Hadi Sutopo, mengatakan perwakilan dari Disdikbud Sragen sudah mengumpulkan orang tua dari lima siswa yang menjadi korban kekerasan guru bimbingan dan penyuluhan (BP) ini pada Jumat (18/5/2017). Disdikbud bermaksud menjadi mediator antara orang tua siswa dengan TN.

Para orang tua belum merasa puas meski kepala sekolah sudah menyampaikan permintaan maaf mewakili TN pada Rabu (17/5/2017). Orang tua menginginkan TN meminta maaf sendiri di hadapan mereka.

“Dalam pertemuan antara orang tua siswa itu, guru itu [TN] sudah mengaku khilaf dan meminta maaf. Dia juga sudah membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi kesalahan itu,” papar Hadi Sutopo kepada Solopos.com, Minggu (21/5/2017).

Advertisement

Dalam pertemuan itu, Disdikbud maupun sekolah tidak memberi sanksi kepada TN. Sanksi akan diberitakan jika TN kembali mengulangi kesalahan yang sama.

“Ketentuan sanksi sudah ada dalam surat pernyataan. Kalau dia mengulangi kesalahan yang sama ya kita beri sanksi,” tegas Hadi Sutopo.

Sebelumnya diberitakan, lima siswa di SMPN 2 Gemolong menjadi korban pemukulan oleh guru mereka berinisial TN. Lima siswa yang menjadi korban pemukulan itu adalah ABW, MR, SG, MI, dan RA.

Advertisement

Insiden pemukulan itu terjadi pada Selasa (16/5/2017) sekitar pukul 09.00 WIB atau setelah jam pelajaran Olahraga selesai. Belum diketahui secara pasti penyebab TN memukul lima siswa itu.

Namun, insiden pemukulan itu diduga dipicu perkara sepele. Saat itu, SG, MI, dan RA sedang beristirahat untuk melepas lelah setelah berolahraga. TN kemudian menghampiri tiga anak dan meminta mereka memindahkan rak sepatu dari suatu tempat ke tempat lain.

Lantaran masih merasa letih, mereka ogah-ogahan menuruti perintah TN. Mereka malah berusaha meninggalkan lokasi. Merasa dilecehkan, TN lantas mendatangi tiga siswa. Sambil marah-marah, TN memukul bagian wajah anak-anak.

Sementara ABW dan MR yang berusaha menanyakan mengapa teman-teman mereka dipukul oleh TN justru mendapat perlakuan yang sama.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif