Warga Sosromenduran tengah membuat apem. Tradisi apeman dalam rangka menyambut ramadan itu dilombakan dan menarik wisatawan. (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Warga Sosromenduran tengah membuat apem. Tradisi apeman dalam rangka menyambut ramadan itu dilombakan dan menarik wisatawan. (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 20 Mei 2017 06:22 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

TRADISI JOGJA
Kelurahan Sosromenduran Kembali Mengadakan Festival Apeman

Tradisi Jogja berupa Festival Apeman digelar di Sosromenduran.

Solopos.com, JOGJA — Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, kembali mengadakan festival apeman masal dalam rangka ruwahan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan, Minggu (21/5/2017). Selain apeman, juga akan digelar kirab budaya, kenduri, dan pentas seni.

Baca Juga : TRADISI JOGJA : Apeman Warga Sosromenduran, Simbol Permohonan Maaf Jelang Ramadan

Ketua Panitia Ruwahan Kelurahan Sosromenduran, Purwandari menyampaikan Ruwahan akan dimulai dengan pembuatan apem masal yang diikuti oleh 52 peserta. Pembuatan apem, menurut Purwandari punya makna permintaan maaf. Ia mengatakan, sebagai manusia wajib hukumnya untuk saling memaafkan satu sama lain.

Apem yang sudah selesai dibuat,  imbuhnya, akan langsung dibagikan kepada wisatawan yang berada di sepanjang Jalan Prawirotaman. Sedangkan sisanya akan dibuat menjadi gunungan dengan tinggi satu setengah meter.

“Gunungan apem ini kemudian diarak melalui rute kantor Kelurahan Sosromenduran, Jalan Malioboro, Jalan Dagen, Jalan Gandekan Lor  dan kembali lagi ke kelurahan,” kata Purwandari saat ditemui di Kantor Kelurahan Sosromenduran, Jumat (19/5/2017).

Rombongan Arak-arakan apem atau yang Purwandari sebut sebagai kirab budaya akan dipimpin pasukan bergaya asli Sosromenduran yang kemudian disusul rombongan penari.

“Baru setelah itu gunungan apem. Masyarakat yang kira-kira jumlahnya 350 orang mengikuti dibelakang. Rombongan terakhir akan ada barongsai,” jelasnya.

Setelah kirab budaya selesai, ia mengatakan masyarakat Sosromenduran akan melaksanakan kenduri [perjamuan makan untuk memperingati peristiwa atau minta berkat] sembari berdoa di sepanjang Jalan Prawirotaman.

Purwandari mengungkapkan kenduri sembari berdoa bertujuan untuk membersihkan jiwa-jiwa manusia sebelum datangnya bulan suci Ramadan dan meminta berkat kepada Tuhan Yang Maha Esa agar arwah leluhur termaafkan dosa-dosanya.

Setelah kenduri, rangkaian acara dilanjutkan dengan pentas seni yang akan menampilkan tarian mulat sarira, modern dance, keroncong dangdut, dan musik dari Hoss Band. “Kami ingin memadukan tradisi dan modernitas. Yang tradisi agar tidak ditinggalkan, tapi yang modern juga tidak ditolak.”

Sebagai info, ruwahan adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan pertengahan bulan kedelapan dalam kalender Jawa atau bersamaan dengan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Dalam tradisi ini masyarakat akan membagikan berbagi makanan berupa apem, kolak pisang, dan ketan.

“Ini adalah tradisi yang harus terus dilestarikan. Selain itu, sebagai kampung wisata, ruwahan kami jadikan atraksi untuk menarik perhatian wisatawan,” kata Purwandari.

Sementara itu, Lurah Sosromenduran mengatakan pihaknya juga mengundang pemilik hotel, bar, dan restaurant yang ada di Jalan Prawirotaman. Ia mengatakan pelibatan para pelaku usaha supaya potensi yang dimiliki masyarakat Sosromenduran bisa dimanfaatkan secara optimal.

“Itu sebagai bentuk kontribusi pelaku usaha kepada masyarakat. Biar mereka menyadari potensi yang ada sekaligus mendukungnya sebagai daya tarik wisata,” tutupnya.

lowongan kerja
lowongan kerja PT. MENSA BINASUKSES, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Banner Toko

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…