Pekerja di lahan pertanian milik Suyud di Desa Genting, Cepogo, Boyolali, memanen bawang merah, Kamis (18/5/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Pekerja di lahan pertanian milik Suyud di Desa Genting, Cepogo, Boyolali, memanen bawang merah, Kamis (18/5/2017). (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Sabtu, 20 Mei 2017 05:10 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PERTANIAN BOYOLALI
Harga Sempat Anjlok, Petani Bawang Merah Cepogo Tunda Panen Sebulan

Pertanian Boyolali, para petani bawang merah di Cepogo menunda panen karena menunggu harga bagus.

Solopos.com, BOYOLALI — Petani bawang merah di Kecamatan Cepogo, Boyolali, menunda panen hingga sebulan karena harga bawang merah turun.

Salah satu petani asal Desa Genting, Cepogo, Suyud, 47, mengatakan panen bawang merah sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak pertengahan April. Namun, saat itu harga jual bawang merah dari petani hanya Rp7.000-Rp7.500 per kg.

Dengan nilai jual tersebut dia merasa keuntungannya masih sangat minim, apalagi biaya tanam juga cukup tinggi. “Sebenarnya bawang merah ini sudah bisa dipanen sebulan lalu. Tapi harganya hanya Rp7.000-Rp7.500 per kg. Jadi mendingan ditunda saja sampai harganya bagus,” ujarnya saat dijumpai Solopos.com di lahan pertaniannya, Kamis (18/5/2017).

Setelah menunda sekitar sebulan, penantian Suyud berbuah manis. Harga jual bawang merah naik meskipun tidak sesuai harapan. Saat ini harga jual bawang merah dari petani Rp8.000-Rp9.000 per kg.

“Harapannya sih harga jualnya sampai Rp10.000 per kilogram, tapi Rp8.000-Rp9.000 per kilogram sudah lumayan lah,” kata petani yang memiliki lahan 1.500 meter persegi ini.

Menurutnya, penundaan tersebut tidak berpengaruh terhadap kualitas bawang merah sepanjang pemupukannya lebih banyak menggunakan pupuk organik. “Kualitas tak masalah [tidak turun] karena saya pakai lebih banyak pupuk organik. Pupuk kimianya sedikit sekali,” kata Suyud yang mengelola lahan pertanian perpaduan tanaman bawang merah, wortel, brokoli, dan tembakau.

Sementara itu, petani lain di desa yang sama, Darni, 50, juga melakukan hal yang sama. Menurutnya, dia terpaksa menunda panen bawang merah pada April lalu karena saat itu harga jual kurang bagus.

Menurutnya, ketika dia memutuskan menunda panen hingga Mei juga atas pertimbangan mendekati Ramadan. “Saat ini kan sudah mau masuk Bulan Puasa dan harga bawang merah biasanya naik. Jadi mendingan saya panen sekarang ketika harganya Rp8.000-Rp9.000 per kilogram,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Dengan harga jual tersebut dia merasa masih untung jika dibandingkan harga bibit senilai Rp28.000 per kilogram ditambah biaya perawatan, pupuk, dan ongkos tenaga. “Lumayan lah bisa menutup biaya bibit sama perawatan,” imbuh dia.

Sementara itu, hasil panen itu biasanya dijual Darmi ke pengepul atau dijual langsung ke pasar-pasar di sekitarnya. “Kalau pas pengepulnya datang ya diambil. Tapi kalau pas saya butuh uang segera ya saya jual sendiri ke pasar,” imbuh Darmi.

 

lowongan pekerjaan
PENGAWAS&ESTIMATOR, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JUAL DAIHATSU Terios’09 TX AD-Solo,NomerCantik,An/Sendiri,Istimewa,Harga Nego,Hub:08…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Peringkat dan Mutu Perguruan Tinggi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/9/2017). Esai ini karya Johan Bhimo Sukoco, dosen Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi, Solo. Alamat e-mail penulis adalah johanbhimo@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO — Kementerian Riset Teknologi dan…