Amanda (kanan) dan Graseli menunjukkan alat pengatur kelembapan udara bikinan mereka yang memenangi Lomba Krenova. Foto diambil di SMAN 3 Sragen, Jumat (19/5/2017). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos) Amanda (kanan) dan Graseli menunjukkan alat pengatur kelembapan udara bikinan mereka yang memenangi Lomba Krenova. Foto diambil di SMAN 3 Sragen, Jumat (19/5/2017). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)
Sabtu, 20 Mei 2017 10:35 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Sragen Share :

PENDIDIKAN SRAGEN
2 Pelajar Ini Ciptakan Alat Pengatur Kelembapan Udara yang Menyehatkan

Pendidikan Sragen, dua pelajar SMAN 3 Sragen menciptakan alat pengatur  kelembapan udara.

Solopos.com, SRAGEN — Air mata Amanda Ardelia, 16, tanpa terasa membasahi pipi. Siswi Kelas XI IPA 2 SMAN 3 Sragen itu larut dalam keharuan.

Dia masih tidak percaya alat yang dia rakit bersama teman sekelasnya, Graseli Setyoningrum, mampu meraih Juara I Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) yang diadakan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sragen, Kamis (18/5/2017).

“Saat diumumkan, saya sempat mencatat poin yang diperoleh dari Juara II dan Juara III. Tapi, begitu nama saya disebut sebagai Juara I, saya kaget. Menangis terharu. Sampai tidak sempat menulis berapa poin yang saya peroleh sendiri,” kata Amanda kala ditemui Solopos.com di sekolahnya, Jumat (19/5/2017).

Dalam lomba itu, Amanda dan Graseli mengusung alat pengatur kelembapan udara. Alat yang belum diberi nama itu merupakan implementasi dari hukum Termodinamika dalam mata pelajaran Ilmu Fisika yang diperolehnya belum lama ini.

Hukum Termodinamika merupakan kajian tentang perpindahan kalori atau panas. Materi ini banyak mengulas hubungan sistem dan lingkungan.

Alat pengatur kelembapan udara bikinan Amanda terbuat dari beberapa komponen meliputi kipas air conditioner (AC), stoples ukuran 2 liter, higrometer atau alat untuk mengukur kelembapan udara, cerobong pipa, mist maker atau alat yang bisa menghasilkan uap, adaptor, dan 800 ml air yang sudah dicampur aromaterapi.

Saat dinyalakan, alat ini bisa memproduksi uap yang bisa mengendalikan kelembapan udara di sebuah kamar berukuran 3 meter x 4 meter persegi. “Alat ini direkomendasikan untuk mereka yang ingin sembuh dari penyakit flu. Alat pengatur kelembapan udara ini juga bisa digunakan untuk mencegah alergi yang disebabkan udara kotor. Kelembapan udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah itu tidak menyehatkan. Ukuran kelembapan udara yang pas itu ya antara 40%-60%,” ucap Amanda.

Untuk merakit alat itu, Amanda membutuhkan biaya sekitar Rp200.000. Uang itu dari sisa uang jajan yang dikumpulkan setiap hari. Namun, uang itu rencananya diganti pihak sekolah.

“Komponen alat ini saya pesan lewat online. Barangnya dikirim dari Surabaya dan Jakarta,” papar Graseli.

Juara II Lomba Krenova diraih Hakim Cahyo Nugroho dan Halim Fajar Nugroho dari SMK Bina Wiyata Sragen. Kedua siswa itu menciptakan alat yang bisa mengubah papan tulis berlayar sentuh.

Juara III diraih Muh. Ilham, Didit Dian R., dan Nur Rois A.N. dari SMA Muhammadiyah Sragen. Tiga siswa itu mampu menciptakan kursi roda untuk orang difabel yang bisa digunakan untuk menyapu.

Juara I Kategori Umum diraih guru dari SMAN 1 Plupuh, Rina Widyawati dan Niken Tantiningtyas, yang menciptakan tabung penggorengan antikolestrol.

lowongan kerja
lowongan kerja SMPI-PK MUHAMMADIYAH DELANGGU, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Banner Toko

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…