Apel bersama memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di Plaza Manahan, Jl. Adisucipto Solo, Sabtu (20/5/2017) pagi. (Farida Trisnaningtyas/JIBI/Solopos) Apel bersama memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di Plaza Manahan, Jl. Adisucipto Solo, Sabtu (20/5/2017) pagi. (Farida Trisnaningtyas/JIBI/Solopos)
Sabtu, 20 Mei 2017 09:15 WIB Farida Trisnaningtyas/JIBI/Solopos Solo Share :

HARI KEBANGKITAN NASIONAL
Kapolda Jateng: NKRI Harga Mati!

Hari Kebangkitan Nasional diperingati dengan apel bersama dipimpin Kapolda Jateng.

Solopos.com, SOLO — Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono, menegaskan NKRI [Negara Kesatuan Republik Indonesia] adalah harga mati.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Kapolda dalam apel bersama memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di Plaza Manahan, Jl. Adisucipto Solo, Sabtu (20/5/2017) pagi.

Condro ingin menunjukkan kepada leluhur bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang tidak akan melupakan sejarah. Sejarah ini dibangun dari keberagaman. Maka dari itu, Indonesia berdiri di atas kebhinekaan suku, agama, etnis, dan berbagai kelompok.

“Ada 1.340 suku yang ada di seluruh Indonesia. Indonesia ini berdiri karena keberagaman. Maka dari itu, NKRI adalah harga mati,” ungkapnya.

Menurutnya, kebangkitan Bangsa Indonesia sudah dilakukan sejak dulu. Adanya Budi Utomo pada 1908 menjadi penanda pergolakan kebangkitan Indonesia. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan Sumpah Pemuda pada 1928. Namun demikian, puncak serta tonggaknya adalah pada 17 Agustus 1945, yakni Kemerdekaan RI.

“Bung Karno merumuskan apa yang cocok bagi negara kita. Pancasila adalah hal yang paling cocok bagi Indonesia. Pancasila rumah keberagaman bagi Indonesia. Sanggupkah kita menjaga Pancasila?” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan pada 1998, Orde Baru jatuh sebagai penanda babak baru demokrasi Indonesia. Akan tetapi, demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat tetap harus didasari pada aturan dan undang-undang.

“Saat ini kita harus fokus pada bagaimana menyejahterakan rakyat. Dulu fokus kita adalah penjajah. Sekarang adalah bagaimana memakmurkan rakyat. Ini momentum kita untuk bangkit bersama untuk NKRI. Banyak muncul kelompok hanya untuk kepentingan mereka sendiri yang mesti kita reduksi,” jelasnya.

lowongan kerja
lowongan kerja SMPI-PK MUHAMMADIYAH DELANGGU, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Banner Toko

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…