Seorang pedagang di Pasar Kolombo memilah bawang merah untuk dijual, Senin (27/2). Saat ini, harga bawang merah mencapai Rp45.000 per kg untuk kualitas I. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Seorang pedagang di Pasar Kolombo memilah bawang merah untuk dijual, Senin (27/2). Saat ini, harga bawang merah mencapai Rp45.000 per kg untuk kualitas I. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 19 Mei 2017 09:10 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

KOMODITAS PANGAN
Sidak ke Pasar, KTNA Sragen Temukan Bawang Merah Impor

Komoditas pangan, KTNA Sragen menggelar sidak ke pasar terkait informasi beredarnya bawang merah impor.
Solopos.com, SRAGEN — Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen menemukan bawang merah impor dari India saat mengecek stok bawang merah di Pasar Bunder Sragen, Kamis (18/5/2017).
Bawang merah impor itu dijual dengan harga Rp15.000/kg atau lebih murah daripada harga bawang merah lokal yang mencapai Rp20.000-Rp25.000/kg.
Ketua KTNA Sragen Suratno sengaja turun ke Pasar Bunder yang merupakan pasar induk di Bumi Sukowati untuk melihat harga bawang merah di pasaran.
Langkah itu dilakukan lantaran KTNA mendapat keluhan dari para petani bahwa harga bawang merah jatuh di angka Rp13.000/kg. Semula Suratno curiga dengan perkembangan pasar bawang merah. Harga di tingkat petani jatuh tetapi harga di pasaran masih tinggi.
“Banyak petani bawang merah di Sragen yang tidak panen. Jumlah petani yang berhasil panen itu hanya 80%. Kalau petani tidak memiliki barang otomatis barang sudah didapat dan mestinya harga di tingkat petani tinggi tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Harga di petani jatuh tetapi barang di pasar berlimpah sampai muncul barang impor segala,” kata Suratno saat berbincang dengan Solopos.com di Pasar Bunder, Kamis siang.
Suratno menyatakan peredaran bawang merah impor itu cukup berpengaruh terhadap tata niaga bawang merah di Sragen terutama bagi petani. Berdasarkan dialog KTNA bersama sejumlah pedagang, Suratno menjumpai bawang merah lokal dengan berbagai ukuran dan harga jualnya mengikuti ukuran bawang merah itu.
“Setelah saya mengetahui kondisi pasar, saya melihat ada rantai perdagangan bawang merah dari petani sampai ke pedagang pasar tradisional ternyata panjang. Harga di petani Rp13.000/kg ternyata sampai di pedagang menjadi Rp20.000/kg. Artinya ada selisih Rp7.000/kg yang mengalir ke rantai perdagangan itu. Untuk memutus rantai perdagangan itu menjadi tanggung jawab pemerintah agar petani tidak dirugikan,” ujarnya.
Suratno yang juga petani bawang merah merasa rugi dengan harga yang jatuh itu. Petani bawang merah asal Klandungan, Ngrampal, Sragen, Wito, juga mengeluhkan harga bawang merah yang jatuh sampai Rp13.000/kg. Dia juga mencurigai adanya rantai makanan yang panjang sehingga berdampak pada harga bawang merah di tingkat petani jatuh.
Sementara itu, Kabid Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, Boghy Yeano Wibowo, mengatakan peredaran bawang merah impor itu tidak berpengaruh pada harga jual bawang merah lokal dan harga di tingkat petani. Dia mengatakan bawang merah impor itu memiliki pangsa pasar sendiri.
“Sebagian besar konsumen sebenarnya memilih bawang merah lokal karena rasanya lebih enak yang lokal. Bawang merah impor itu rasanya hambar dan bentuknya besar-besar seperti bawang Bombay. Biasanya bawang merah impor itu untuk lalapan pedagang satai ayam atau satai kambing,” tuturnya.

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…