Kondisi Jembatan Banaran di antara Dusun Banaran dan Dusun Babadan, Desa Banaran, Pracimantoro, Wonogiri, Jumat (19/5/2017). (Danur Lambang Pristiandaru/JIBI/Solopos) Kondisi Jembatan Banaran di antara Dusun Banaran dan Dusun Babadan, Desa Banaran, Pracimantoro, Wonogiri, Jumat (19/5/2017). (Danur Lambang Pristiandaru/JIBI/Solopos)
Jumat, 19 Mei 2017 22:15 WIB Danur Lambang Pristiandaru/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

INFRASTRUKTUR WONOGIRI
Hampir Empat Tahun Jembatan Banaran di Pracimantoro Dibiarkan Rusak Parah

Infrastruktur Wonogiri, jembatan antardesa di Pracimantoro rusak selama empat tak kunjung diperbaiki.

Solopos.com, WONOGIRI — Jembatan yang menghubungkan Desa Banaran dan Desa Jimbar, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, rusak parah sejak empat tahun lalu dan tak kunjung diperbaiki.

Kondisi jembatan itu kini cukup memprihatinkan. Pantauan Solopos.com, jembatan yang berada di antara Dusun Banaran dan Dusun Babadan tersebut miring ke barat. Fondasi tengah jembatan juga miring ke barat sehingga permukaan jembatan tidak rata.

Permukaan badan jembatan sisi timur lebih tinggi dibandingkan permukaan jembatan sisi barat. Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 22 meter (m), lebar 3 m, dan tinggi sekitar 5 m dari sungai.

Di bawah jembatan itu mengalir Sungai Banaran dengan debit kecil. Salah satu warga Dusun Babadan RT 003/RW 005, Tumikem, mengatakan jembatan tersebut rusak parah sejak 2013 karena diterjang banjir bandang. “Waktu itu, pada malam hari sekitar Agustus, aliran Sungai Banaran meluap hingga ke pekarangan rumah saya padahal sungainya cukup dalam. Selain itu alirannya sangat desar. Tiba-tiba saja terdengar bunyi seperti benda jatuh,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Jumat (19/5/2017).

Keesokan paginya, lanjut Tumikem, setelah aliran sungai kembali normal, baru diketahui fondasi jembatan tersebut tergerus aliran sungai dan miring ke barat. Sejak saat itu, tidak ada penanganan lebih lanjut dari pemerintah.

“Setelah rusak, mulanya kami ragu-ragu untuk lewat jembatan tersebut. Tapi lama kelamaan, kami jadi terbiasa karena mau tidak mau kami harus lewat situ. Daripada harus memutar. Jauh,” sambung dia.

Tumikem menambahkan kendati kekhawatirannya telah memudar, dia mengaku tetap harus hati-hati saat melewati jembatan tersebut apalagi sehabis turun hujan. “Jalannya licin kalau habis hujan, banyak juga yang terpeleset. Namun tidak sampai jatuh ke dalam sungai,” tambah dia.

Terpisah, Kades Banaran, Katman, berujar Pemerintah Desa (Pemdes) Banaran telah berulang kali mengajukan usulan perbaikan jembatan tersebut dalam setiap Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Pracimantoro. Namun, usulan tersebut belum terealisasi.

“Kami waswas jika jembatan tersebut roboh tiba-tiba ketika ada orang yang melintasinya. Selain akan memakan korban, akses warga yang hendak ke pusat kota Kecamatan Pracimantoro akan terlampau jauh karena harus memutar melewati Desa Jimbar,” ujar dia.

Katiman menambahkan dana desa (DD) dan alokasi dana desa (ADD) takkan mampu memperbaiki jembatan yang dibangun pada 1998 tersebut. Perbaikan jembatan ditaksir menelan biaya sekitar Rp600 juta sementara DD dan ADD yang didapat Desa Banaran sekitar Rp900 juta.

“Kemarin DPU [Dinas Pekerjaan Umum] berjanji akan memperbaiki jembatan tersebut tahun ini. Entah melalui APBD atau APBN saya kurang tahu,” sambung dia.

 

lowongan kerja
lowongan kerja PT.MATARAM MANDIRI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Ramadan di Bumi Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/6/2017). Esai ini karya M. Zainal Anwar, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah zainalanwar@gmail.com Solopos.com, SOLO–Di bawah ideologi Pancasila, menjalani puasa Ramadan di Indonesia menyajikan kemewahan luar…