Mawar kuning juga berkembang di Desa Mriyan, Boyolali (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos) Mawar kuning juga berkembang di Desa Mriyan, Boyolali (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)
Jumat, 19 Mei 2017 22:30 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Harga Melambung, Mawar di Boyolali Jadi Incaran Maling

Bunga mawar di Boyolali kini jadi komoditas yang diincar pencuri karena harganya yang melambung.

Solopos.com, BOYOLALI — Menjelang Ramadan, harga bunga mawar dari petani meningkat hingga dua kali lipat atau lebih. Namun seiring melambungnya harga bunga mawar itu, kasus pencurian bunga mawar marak di daerah pengahasil bunga seperti Kecamatan Musuk, Boyolali.

Pada hari biasa, harga bungan mawar rata-rata Rp50.000 per keranjang ukuran sedang. Namun menjelang Ramadan atau musim sadranan seperti saat ini, harga bunga menjadi Rp100.000 untuk ukuran yang sama.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, pencurian itu menimpa beberapa warga Desa Sruni, Kecamatan Musuk, dalam beberapa hari terakhir. Aji, salah satu warga setempat mengatakan salah satu saudaranya kehilangan bunga mawar siap panen di ladangnya.

“Saya disambati saudara saya yang baru pulang dari ladang. Katanya sebagian bunga mawar yang akan dipanen sudah hilang dan kemungkinan dicuri,” kata dia kepada wartawan di Boyolali, Jumat (19/5/2017).

Aji menambahkan di ladang bunga milik saudaranya itu juga ditemukan beberapa kuntum bunga mawar. Kemungkinan mawar itu sudah dipetik pencuri namun tercecer saat akan dibawa pergi.

Masih menurut Aji, warga lain, Hadi Sutarno, juga mengaku kehilangan sebagian bunga mawar siap panen. “Lumayan banyak juga yang hilang. Padahal bunganya siap panen dan akan dijual kepada pengepul.”

Kasus pencurian bunga mawar paling banyak terjadi pada di ladang karena pengawasannya tidak seperti ditanam di pekarangan sebagaimana warga lain melakukannya. Dengan maraknya pencurian bunga mawar ini, petani mawar menyiasatinya dengan panen pada sore hari. “Daripada keduluan maling, panennya sore hari,” imbuh Aji.

Kepala Dinas Lingkunga Hidup (DLH) Boyolali Totok Ejo YP yang baru beberapa hari meninggalkan jabatan Camat Musuk ini mengatakan kasus pencurian serupa pernah terjadi pada musim panen sebelumnya. “Mungkin karena menjelang Ramadan ini harganya mahal, makanya ada orang yang ingin mencuri,” ujarnya.

Di sisi lain dia menambahkan, pada saat harga mawar rendah, petani membiarkannya tanpa dipanen. Menurutnya, agar mawar tetap bisa dimanfaatkan sepanjang waktu maka perlu ada alternatif pengelolaan. “Kalau pas tidak laku, mawar mekar sering dibiarkan saja tidak dipanen. Maka solusinya perlu ada alternatif pengolahan yang lain,” imbuh Totok.

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…