ilustrasi ilustrasi
Kamis, 18 Mei 2017 19:15 WIB Moh. Khodiq Duhri/Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

PENDIDIKAN SRAGEN
Gara-Gara Rak Sepatu, 5 Siswa SMPN 2 Gemolong Dipukul Guru

Pendidikan Sragen, lima siswa SMPN 2 Gemolong dipukul guru mereka.

Solopos.com, SRAGEN — Insiden kekerasan dalam dunia pendidikan terjadi di wilayah Kabupaten Sragen. Lima siswa di SMPN 2 Gemolong menjadi korban pemukulan oleh guru mereka berinisial TN.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, lima siswa yang menjadi korban pemukulan itu adalah ABW, MR, SG, MI, dan RA. Insiden pemukulan itu terjadi pada Selasa (16/5/2017) sekitar pukul 09.00 WIB atau setelah jam olahraga selesai. Belum diketahui secara jelas penyebab TN memukul lima siswa itu.

Namun, insiden pemukulan itu diduga dipicu perkara sepele. Pada saat itu, SG, MI, dan RA sedang beristirahat untuk melepas lelah setelah berolahraga. TN kemudian menghampiri tiga anak dan meminta mereka memindahkan rak sepatu ke tempat lain.

Lantaran masih letih, para siswa itu ogah-ogahan menuruti perintah TN. Mereka malah berusaha meninggalkan lokasi. Merasa diremehkan, TN lantas mendatangi tiga siswa. Sambil marah-marah, TN memukul bagian wajah murid-murid itu.

Sementara ABW dan MR yang berusaha menanyakan mengapa teman-temannya dipukul oleh TN juga mendapat perlakuan yang sama. “Anak saya itu tidak tahu apa-apa, justru dia itu ingin tanya mengapa teman-temannya dipukul. Eh, anak saya malah dipukul kena kepala bagian belakang. Anak saya sampai merasakan nyeri di kepala,” kata Ny. Ardani, orang tua dari MR kala berbincang dengan Solopos.com di Kalijambe, Kamis (18/5/2017).

Pada Rabu (17/5/2017), Ny. Ardani bersama suaminya sengaja datang ke sekolah untuk menemui TN. Ardani bermaksud menanyakan mengapa anaknya dipukul. Bila anaknya salah, Ardani tidak keberatan meminta maaf.

Namun, bila anaknya tidak bersalah, TN yang harus meminta maaf. “Saya ke sekolah hanya ditemui Pak Kepala Sekolah dan Wali Kelas. Mereka berdua meminta maaf atas insiden pemukulan itu. Tapi, saya menyesal tidak dipertemukan langsung dengan TN. Seharusnya TN juga dihadirkan untuk minta maaf,” terang Ny. Ardani.

Triyono, orang tua ABW, mengatakan anaknya itu baru berterus terang kepadanya telah menjadi korban pemukulan oleh TN pada Rabu. Menurut anaknya, lima siswa yang dipukul TN itu sempat dikumpulkan kepala sekolah pada Selasa siang.

Mereka diminta tidak menceritakan insiden pemukulan itu kepada siapa pun, termasuk kepada orang tua masing-masing. “Sejak ada orang tua yang datang ke sekolah untuk menanyakan maksud insiden pemukulan itu, anak saya baru mau berterus terang. Katanya dia dipukul dari belakang mengenai pipi sebelah kanan. Dia sendiri tidak tahu mengapa dipukul guru itu. Waktu itu dia hanya bermaksud menanyakan alasan mengapa teman-temannya dipukul TN?” terang warga Doyong, Miri, ini.

Baik Ny. Ardani maupun Triyono berharap sekolah memberikan sanksi kepada TN yang sudah main pukul seenaknya kepada siswa. Keduanya menganggap prilaku TN tidak mencerminkan guru yang patut dicontoh.

“Saya dengar siang tadi TN sudah minta maaf kepada lima siswa itu. Tapi, tidak cukup dengan maaf, kalau salah ya harus diberi sanksi,” ujar Ny. Ardani.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Gemolong, Sukardi, membenarkan adanya insiden pemukulan itu. Dia juga membenarkan adanya orang tua siswa yang datang ke sekolah untuk menanyakan kejelasan mengenai hal itu pada Rabu.

“Ceritanya sebagai guru kan tugasnya mengarahkan. Tapi, siswa itu malah lari. Karena merasa diremehkan, guru itu ngeplak [memukul dengan telapak tangan] siswa. Tapi tidak apa-apa. Saya juga sudah memanggil dia [TN]. Saya minta dia lebih hati-hati dalam menghadapi anak-anak. Saya minta hal itu tidak diulanginya. Jadi, permasalahan ini sudah selesai,” ujar Sukardi.

 

Lowongan Pekerjaan
MERCHANDISER, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Banner Toko

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…