Suasana pertemuan antara dokter Dian Ika Putri di hadapan pimpinan DPRD dan Komisi IV di ruang komisi setempat, Senin (15/5/2017). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos) Suasana pertemuan antara dokter Dian Ika Putri di hadapan pimpinan DPRD dan Komisi IV di ruang komisi setempat, Senin (15/5/2017). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)
Senin, 15 Mei 2017 17:30 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Sragen Share :

Dipanggil DPRD Sragen Soal Status Facebook, Ini Pembelaan Dokter Ika

Dokter Ika menyampaikan pembelaannya saat dipanggil Komisi IV DPRD Sragen terkait status Facebooknya yang dianggap menyudutkan.

Solopos.com, SRAGEN — Dokter Dian Ika Putri akhirnya memenuhi panggilan Komisi IV DPRD Sragen, Senin (15/5/2017). Dokter spesialis kandungan ini dimintai klarifikasi terkait unggahan statusnya di media sosial yang dianggap dimenyudutkan Komisi IV DPRD Sragen.

Kedatangan dokter Ika didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama dan Wakil Direktur Umum RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen, Didik Haryanto; dan Udayanti. Mereka disambut pimpinan anggota DPRD Sragen Bambang Samekto, Bambang Widjo Purwanto, dan sejumlah anggota Komisi IV.

Dokter Ika mengaku tidak bermaksud menyinggung lembaga DPRD Sragen. Statusnya di Facebook itu hanya ditujukan kepada anggota DPRD Sragen Fathurrahman yang pernyataannya dimuat di Solopos edisi 5 Mei 2017.

“Mohon maaf sekali kalau yang tertulis di status itu anggota DPRD Sragen, tapi yang saya tuju itu Bapak Fathurrahman [anggota Komisi IV DPRD Sragen]. Bukan anggota dewan secara menyeluruh. Saya tidak tahu apakah statemen beliau di koran itu sudah berdasarkan penilitian atau pengumpulan data di lapangan. Terus terang saya merasa sedih kalau kami tenaga kesehatan dibilang terlambat dalam menangani persalinan,” terang dokter Ika.

Ika mengaku tidak bermaksud mem-bully anggota DPRD Sragen melalui unggahan statusnya. Status di FB itu hanya ungkapan kekecewaan yang sifatnya spontan. Menurutnya, statemen Fathurrahman telah melukai perasaan tenaga medis yang selama ini berusaha keras menyelamatkan ibu dan bayi dalam proses persalinan.

“Kalau saya diminta minta maaf, saya akan minta maaf di manapun. Tapi, terus terang saya kecewa, sekelas Bapak Fathurrahman membuat statemen yang melukai perasaan saya dan teman-teman,” paparnya. Baca juga: Status Facebook Dokter Ini Bikin DPRD Sragen Gerah, Bupati Dipanggil.

Menanggapi hal itu, Bambang Widjo Purwanto merasa tersinggung karena menganggap status itu menyebut nama anggota DPRD Sragen, bukan perorangan. Bambang merasa tersinggung karena Ika menyebut anggota DPRD menjadikan kasus kematian ibu itu untuk bahan pencitraan.

“Tugas kami itu adalah pengawas program pemerintah. Anda itu sebagai PNS seharusnya sadar bila kerja Anda itu kami awasi. Kami ini sedang bekerja, bukan sedang membuat pencitraan,” ujarnya.

Status Facebook dokter yang membuat DPRD Sragen gerah. (Facebook)

Status Facebook dokter yang membuat DPRD Sragen gerah. (Facebook)

Fathurrohman menyesalkan tidak adanya gesture penyesalan dari dokter Ika. Menurutnya, dirinya tidak perlu membuat sebuah penelitian untuk mengetahui bagaimana kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. “Kami punya masyarakat. Kami adalah wakil rakyat. Sekecil apapun laporan dari masyarakat, pasti kami tindak lanjuti. Janganlah merasa paling benar dan paling pintar sendiri,” kata Fathur.

Di akhir pertemuan, legislator mempersilakan dokter Ika untuk menyampaikan pernyataan penutup. Dokter Ika menyampaikan permintaan maaf kepada anggota DPRD. “Saya meminta maaf apabila ada salah kata. Perlu diketahui, saya itu kurang menguasai bahasa Indonesia. Jadi, kalau ada kata-kata yang kurang berkenan, saya minta maaf. Ke depan, saya akan lebih hati-hati dalam menggunakan media sosial,” ujarnya.

Lowongan Pekerjaan
GURU KREATIF, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


1

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…