Foto ilustrasi Gunung Merapi (Gigih M. Hanafi) Gunung Merapi (Gigih M. Hanafi/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 12 Mei 2017 08:00 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

Jalur Pendakian Merapi Via Sapu Angin Klaten Diresmikan

Jalur Sapu Angin, pendakian Merapi diresmikan.

Solopos.com, KLATEN – Jalur pendakian Gunung Merapi melalui Sapu Angin, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang Klaten diresmikan Jumat (12/5/2017). Jumlah pendaki yang melintasi jalur tersebut bakal dibatasi.

Kepala Resort Kemalang dan Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Arif Sulfiantono, mengatakan peresmian dilakukan pada Jumat malam di Desa Tegalmulyo.

“Pemkab yang meresmikan. Kami juga mengundang SAR di empat kabupaten sekeliling Merapi serta BPBD. Nanti juga ada peresmian tim rescue Sapu Angin. Harapan kami jalur itu bisa diresmikan plt bupati,” kata Arif saat ditemui wartawan di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kamis (11/5/2017).

Setelah peresmian, sebanyak 30 tim pendaki bakal melalui pendakian Gunung Merapi via Sapu Angin. Masing-masing tim terdiri dari tiga orang yang merupakan para pecinta alam dari wilayah Jogja, Soloraya, Magelang, serta potensi SAR di Klaten terutama warga Tegalmulyo.

“Sabtu [13/5] pagi mereka kami lepas untuk pendakian dan sore sampai pada batas vegetasi namanya Pusung London. Sampai di pos tiga yakni Watu Bolong mereka camping di sana. Pada Minggu [14/5] pagi mereka turun,” kata dia.

Tak semua anggota tim ikut melakukan pendakian Gunung Merapi melalui jalur Sapu Angin. Sebagian mengikuti kegiatan bertajuk camping ceria untuk mengetahui potensi lain di wilayah Tegalmulyo.

“Satu tim dua orang naik, satu orang kami minta tinggal di bawah. Kami isi materi-materi pengenalan medan Sapu Angin. Jadi tidak sekadar tahu soal jalur pendakian saja tetapi bisa mengetahui potensi lainnya seperti Sendang Gemuling, Gua Jepang, serta Kampung Girpasang,” ungkapnya.

Arif mengatakan kajian untuk membuka jalur Sapu Angin sudah dilakukan sejak 2015 lalu. Jalur itu memiliki empat pos hingga lokasi akhir pendakian yakni di kawasan Pasar Bubrah. Panjang jalur pendakian yakni 5,4 km hingga Pasar Bubrah dengan empat pos pendakian.

“Panjang jalurnya dua kali lipat dibanding jalur pendakian Selo, Boyolali. Kondisi medan lebih landai dan ekosistem masih asli seperti pohon dadap dan bisa melihat Lutung Jawa. Pada 2015, saat survei saya pernah melihat sekelebat Macan Tutul Jawa,” kata pria berkaca mata itu.

Arif tak menampik banyak simpangan pada jalur Sapu Angin. Terkait hal itu, warga sudah memasang papan penunjuk agar para pendaki tak tersesat.

Sementara itu, pengelolaan jalur pendakian via Sapu Angin bakal diserahkan ke warga Desa Tegalmulyo. Hal itu menyusul Desa Tegalmulyo dinilai sudah siap, salah satunya dengan membentuk kelompok rescue Sapu Angin yang terdiri dari 10 warga setempat.

“Tentu nanti ada pendampingan dari SAR. Dari tim SAR Sapu Angin ada yang merupakan anggota SAR Klaten,” katanya.

Lebih lanjut, Arif menuturkan tata tertib pendakian melalui jalur itu bakal diperketat. Tak sembarang pendaki diizinkan melalui jalur tersebut.

Pemeriksaan

“Yang jelas setiap naik harus diperiksa dulu barangnya apa saja. Selain itu, para pendaki sudah memiliki pengalaman naik atau belum. Minimal dua sampai tiga kali mendaki. Kalau belum, tidak diperbolehkan melintasi jalur Sapu Angin,” ungkapnya.

Arif menambahkan jumlah pendaki yang melalui jalur Sapu Angin bakal dibatasi setiap harinya. Jumlah maksimal pendaki yang melintasi jalur itu dalam sehari 20-30 orang.

“Setelah pembukaan ini kan teman-teman Sapu Angin banyak acara di desa menjelang Ramadhan. Misalnya kalau dibuka dibatasi dengan sekali naik dalam satu hari cuma 10 orang. Kalau hari biasa sehari 20-30 pendaki. Berbeda dengan jalur Selo, jalur Sapu Angin tak bisa massal,” urai dia.

Disinggung retribusi ke para pendaki, Arif menuturkan tarif yang diberlakukan dari TNGM berkisar Rp10.000-12.000/orang. “Namun, dari desa saat ini masih digodok. Yang jelas lebih mahal karena standarnya lebih tinggi,” katanya.

Kepala Desa Tegalmulyo, Sutarno, mengatakan persiapan sudah dilakukan terkait pembukaan jalur Sapu Angin. Salah satunya dengan membentuk tim yang mengawal setiap pendakian selain tim rescue.

Pengelolaan jalur itu bakal melalui BUM desa. Soal tarif pendakian via Sapu Angin, Sutarno menjelaskan masih dalam pembahasan. “Selain untuk retribusi ke TNGM, tarif juga digunakan untuk BUM desa beserta pembiayaan lainnya,” urai dia.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…