Seorang anak menemani ibunya mengais sampah (Alexandre Sattler/Dailymail.co.uk) Seorang anak menemani ibunya mengais sampah (Alexandre Sattler/Dailymail.co.uk)
Senin, 8 Mei 2017 20:45 WIB Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com Peristiwa Share :

Bikin Haru, Fotografer Prancis Ungkap Kehidupan Pemulung di TPST Bantar Gebang

Kehidupan pemulung di TPST Bantar Gebang membuat seorang fotografer asal Prancis terharu.

Solopos.com, SOLO – Alaxandre Sattler, 36, seorang fotografer asal Prancis terkejut melihat masyarakat yang hidup di antara gunungan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Ia tidak menyangka ada orang yang mampu bertahan hidup di tempat kotor seperti itu.

Saking kagumnya, Sattler mengabadikan potret kehidupan penduduk Bantar Gebang dalam beberapa foto. Saat berkunjung ke Bantar Gebang, ia bertemu dengan sekelompok orang yang menggantungkan kehidupan dari gunungan sampah.

Bantar Gebang memang bukan hanya menampung 9.000 ton sampah setiap hari, tapi juga rumah bagi ribuan orang. Sattler melihat sekitar 3.000 keluarga tinggal dan mencari nafkah di sana.

“Saya melihat banyak keluarga tinggal di Bantar Gebang. Aku tidak menyangka sampah yang sangat kotor itu menjadi sumber kehidupan mereka. Sisa buah dan sayuran yang sudah dibuang bahkan menjadi sumber makanan bagi mereka,” tutur Sattler seperti dikutip Solopos.com dari Daily Mail, Senin (8/5/2017).

Seorang nenek membawa mentimun yang didapat dari tumpukan sampah (Alexandre Sattler/Dailymail.com.uk)

Seorang nenek membawa mentimun yang didapat dari tumpukan sampah (Alexandre Sattler/Dailymail.com.uk)

Pemandangan tersebut membuat Sattler heran. Bagaimana mungkin orang-orang itu hidup bahagia di tempat kotor tanpa adanya sumber air bersih dan balai kesehatan. Ia semakin miris saat melihat anak-anak bermain dengan riang tanpa alas kaki di tempat seperti itu.

“Aku melihat anak-anak tinggal di tengah sampah, bermain sampah dengan bertelanjang kaki. Raut wajah bahagia tetap terpancar meski kaki mereka terluka akibat goresan benda tajam yang ada di sana. Bahkan, mereka terlihat menikmati kehidupan di tengah gunungan sampah itu,” sambung dia.

Sattler semakin terharu dengan keramahan yang ditunjukkan warga Bantar Gebang. Menurutnya, meski hidup dalam keadaan serba sulit, mereka tetap menjamu tamu dengan baik.

“Orang-orang dewasa tampak sangat pasrah dengan kondisi mereka. Aku terharu dengan keramahan sikap yang mereka tunjukkan,” imbuhnya.

Kehidupan penduduk TPST Bantar Gebang (Alexandre Sattler/Dailymail.co.uk)

Kehidupan penduduk TPST Bantar Gebang (Alexandre Sattler/Dailymail.co.uk)

Menurut Sattler, semua orang bisa membantu memperbaiki kehidupan penduduk TPST Bantar Gebang. Cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengurangi limbah.

“Masalahnya adalah terlalu banyak sampah di sana. Solusinya adalah mengubah gaya hidup untuk mengurangi limbah. Selain itu, kita bisa membantu menyediakan air bersih, makanan, serta pendidikan untuk anak-anak,” pungkasnya. 

 

lowongan pekerjaan
DAQU TRAVEL HAJI & UMROH SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…