Ilustrasi parapet (www.ligneconfederationline.ca)
Jumat, 21 April 2017 08:10 WIB Indah Septiyaning W./JIBI/Solopos Solo Share :

INFRASTRUKTUR SOLO
Anggaran Proyek Parapet Bengawan Solo Terancam Hangus, Ini Sebabnya

Infrastruktur Solo, anggaran senilai puluhan miliar rupiah terancam hangus.

Solopos.com, SOLO — Anggaran puluhan miliar rupiah untuk proyek pembangunan parapet sebagai program pengendalian banjir Sungai Bengawan Solo tahap II terancam hangus.

Lambatnya proses relokasi warga bantaran Sungai Bengawan Solo menjadi penyebabnya. Kuasa Pengguna Anggaran Pelaksana Jaringan Sumber Air (PJSA) Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), V. Untoro Kurniawan, menjelaskan pembangunan parapet dari Gulon hingga Joyosuran dikerjakan multiyears mulai 2016 hingga 2018.

Dengan skema penganggaran terbagi dalam tiga tahap. Tahap I pada 2016, anggaran pembangunan parapet disiapkan Rp10 miliar. Anggaran tersebut telah terserap seluruhnya.

Sedangkan tahun ini, pemerintah menyiapkan anggaran Rp90 miliar untuk parapet tersebut. Namun hingga kini anggaran yang terserap baru mencapai 20% dari total Rp90 miliar. Padahal jika merujuk aturan Menteri Keuangan (Menkeu), anggaran pembangunan parapet harus terserap 100% setiap akhir tahun anggaran.

“Jadi kalau tahun ini misal dari Rp90 miliar hanya terserap Rp50 miliar, anggaran Rp40 miliar akan hangus,” jelas dia ketika dijumpai wartawan di Balai Kota, Kamis (20/4/2017).

Setiap anggaran yang tidak terserap akan kembali ke kas negara. Anggaran tersebut tidak bisa lagi dikucurkan untuk dilanjutkan di tahun berikutnya. Dengan kondisi ini, anggaran pembangunan parapet harus 100% terserap pada tiap tahun anggarannya.

Namun sayangnya pelaksanaan pembangunan parapet terkendala belum kelarnya relokasi warga bantaran Sungai Bengawan Solo. BBWSBS terus menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo agar program relokasi warga bantaran bisa dipercepat.

“Kami minta agar Mei ini relokasi sudah selesai. Kalau tidak selesai, kami khawatir akan berdampak pada pembangunan parapet sesuai aturan Menkeu,” kata dia.

Dia mengatakan pembangunan parapet terpaksa dikerjakan spot per spot, yakni di lahan yang bebas hunian. Akibatnya progres pembangunan parapet tahap II baru mencapai 20%.

Kendala utamanya adalah masih banyaknya hunian di bantaran sungai. “Ada satu hunian saja, parapet tidak bisa dibangun. Makanya kami meminta agar relokasi bisa dipercepat,” pintanya.

Di tahap III pada tahun anggaran 2018, pemerintah menyiapkan anggaran Rp111 miliar untuk penyelesaian pembangunan parapet. Secara keseluruhan anggaran tersebut mencapai Rp211 miliar.

Anggaran tersebut tidak hanya dialokasikan untuk membangun parapet, namun juga membangun tujuh rumah dan pompa air di sepanjang parapet tersebut. Dengan kapasitas pompa air disiapkan adalah 250-500 liter per detik.

“Sepanjang Sungai Bengawan Solo dari Joyosuran sampai Gulon tidak semua akan dibangun parapet. Kalau yang sudah ditanggul tanah dengan kapasitas Q50, tidak dibangun parapet. Q50 adalah satuan yang digunakan untuk mengukur kekuatan tanggul sungai dalam mengantisipasi banjir 50 tahunan,” katanya.

Beberapa wilayah terdapat tanggul Q50 pintu air Putat Sewu sampai Demangan. Daerah tersebut nanti tidak akan dibangun parapet, sedangkan tanggul yang belum Q50 akan ditinggikan.

“Jadi proyek parapet itu tidak menyeluruh hanya di spot-spot yang memungkinkan,” jelasnya.

Wali Kota F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan berusaha akan mempercepat program relokasi warga di bantaran Sungai Bengawan Solo. Pemkot menargetkan program relokasi rampung secepatnya.

Dengan demikian, proyek pembangunan parapet bisa dikerjakan tanpa kendala bangunan warga bantaran. Merujuk data, masih terdapat 76 bangunan hak milik (HM) dan 26 bangunan berstatus tanah negara (TN) yang bertahan di bantaran Sungai Bengawan Solo.

Bangunan itu tersebar di wilayah Sewu, Sangkrah, serta Semanggi. “Kami terus berupaya mempercepat proses penyelesaian program relokasi warga bantaran,” katanya.

 

Lowongan Pekerjaan
FASHION OUTLET, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…