Kepala Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen, Susilo (kanan), bersalaman dengan Sri Wahyuni, 46, warga Dukuh Karangasem RT 001, Banaran, di halaman Balai Desa Banaran, Kamis (20/4/2017). Sri Wahyuni berpamitan untuk melaksanakan nazar jalan kaki ke Istana Negara demi bertemu dengan Presiden Joko Widodo. (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Kepala Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen, Susilo (kanan), bersalaman dengan Sri Wahyuni, 46, warga Dukuh Karangasem RT 001, Banaran, di halaman Balai Desa Banaran, Kamis (20/4/2017). Sri Wahyuni berpamitan untuk melaksanakan nazar jalan kaki ke Istana Negara demi bertemu dengan Presiden Joko Widodo. (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Jumat, 21 April 2017 11:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Ibu Ini Berjalan Kaki dari Sragen ke Istana Negara demi Bertemu Jokowi

 Perempuan asal Sambungmacan Sragen Sri Wahyuni berjalan kaki ke Jakarta untuk bertemu Jokowi.

Solopos.com, SRAGEN — Sri Wahyuni, 46, warga Dukuh Karangasem RT 001, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, berjalan kaki dari Sambungmacan, Sragen, mulai Jumat (21/4/2017) pukul 06.00 WIB, menuju ke Istana Negara di Jakarta untuk bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sri nekat melakukan tindakan ekstrem itu untuk memenuhi nazarnya saat Jokowi terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu.

“Dulu waktu mau melaksanakan nazar itu, suami tidak mengizinkan karena anak tunggal saya masih berumur empat tahun. Bagi saya izin dari suami itu penting. Nah, baru pada tahun ini, ketika anak saya sudah berumur tujuh tahun baru mendapat izin dari suami. Sejak itu saya langsung berniat pada Jumat Legi mau menunaikan nazar itu,” ujar Sri saat berbincang dengan solopos.com di Balai Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen, Kamis (20/4/2017).

Suratno, 46, suami Sri, hanya tersenyum mendengar cerita istrinya. Suratno mengantar Sri untuk melengkapi dokumen perjalanan, seperti surat jalan dari pemerintah desa, camat, polsek, Koramil, hingga dari Polres Sragen. Semua diurus beberapa hari terakhir.

Surat jalan dari Satlantas Polres Sragen sudah keluar. Sri sempat diberitahu Kasatlantas AKP Dwi Erna Rustanti. Namun surat jalan itu akan diantar Kasatlantas sendiri sembari melepas kepergian Sri untuk menunaikan nazar.

Sri tidak sengaja dalam menentukan hari keberangkatannya ke Ibu Kota. Hari yang dipilih Sri bertepatan dengan Hari Kartini. “Saya hanya asal ngomong saja memilih Jumat Legi. Ternyata bertepatan dengan Hari Kartini. Sebenarnya saya memungkinkan bertemu Pak Jokowi di Solo Jumat tetapi nazar saya harus bertemu Pak Jokowi di Jakarta. Saya ingin memberikan sari kedelai untuk Pak Presiden. Sari kedelai buatan saya sendiri,” ucap Sri.

Sri dan suaminya bekerja sebagai penjual sari kedelai. Produksi sari kedelai itu cukup banyak, yakni mencapai 2.000 bungkus per hari. Sari kedelai Sri dijual dengan harga Rp1.000 per bungkus. Pelanggannya sudah mencapai Ngawi Jawa Timur dan wilayah sekitar Sragen. Usaha itu menjadi penopang hidup mereka sehari-hari selama 10 tahun terakhir.

“Selama dua pekan, saya harus berpisah dengan suami dan anak. Mohon doanya, semoga perjalanan saya selamat sampai kembali lagi ke rumah bertemu suami dan anak,” pinta Sri Wahyuni. Selain bekal ala kadarnya, Sri juga mendapat uang saku dari suaminya senilai Rp777.000. Caping lebar yang dikenakannya juga dibuatkan sendiri oleh suami Sri.

 

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…