Ilustrasi hama wereng pengisap tanaman padi (JIBI/Solopos/Dok.) Ilustrasi hama wereng pengisap tanaman padi (JIBI/Solopos/Dok.)
Kamis, 13 April 2017 01:30 WIB Ponco Suseno/JIBI/Solopos Klaten Share :

PERTANIAN KLATEN
Diserang Wereng, Ratusan Hektare Tanaman Padi Terancam Puso

Pertanian Klaten, ratusan hektare lahan tanaman padi terancam puso karena diserang wereng.

Solopos.com, KLATEN — Serangan wereng di Kabupaten Bersinar berpotensi meluas dalam waktu dekat. Serangan wereng itu mengancam ratusan hektare sawah yang ditanami tanaman padi puso alias gagal panen.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Joko Siswanto, saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (12/4/2017), mengatakan sejauh ini wereng menyerang 15 hektare sawah di kawasan Trucuk, Pedan, Wonosari, dan Delanggu. (Baca: Wereng Serang Tanaman di Sawah, Petani Mulai Khawatir)

“Kami sudah mulai menyemprot secara massal di lokasi yang diserang wereng itu. Wereng yang menyerang di empat kawasan itu jenisnya wereng cokelat. Tanaman padi yang diserang biasanya berusia 21 hari-45 hari. Varietas padi yang diserang, di antaranya IR-64, situbagendit, ciherang, dan varietas lokal lainnya,” katanya.

Joko Siswanto mengatakan perhatian DPKPP Klaten tak hanya menyemprot tanaman padi di areal sawah yang sudah terserang wereng. Sejumlah penyuluh pertanian dibantu anggota TNI juga memantau areal sawah yang tergolong berpotensi terserang wereng dengan luas mencapai 544 hektare.

Areal sawah tersebut tersebar di kawasan Gantiwarno, Trucuk, Manisrenggo, Ceper, Pedan, Karangdowo, Juwiring, Wonosari, Delanggu, Karanganom, Tulung, Klaten Selatan, dan Klaten Tengah. “Di daerah yang saya sebutkan tadi terdapat telur wereng yang siap menetas dalam beberapa hari ke depan. Guna menyikapi persoalan ini, kami bakal melakukan penyemprotan massal dengan memberdayakan petugas 4 in 1 [mantri tani, pengamat hama, petugas penyuluh lapangan, dan TNI]. Penyemprotan dilakukan saat telur wereng itu sudah menetas. Kalau belum menetas, akan muspra atau percuma. Luas lahan pertanian yang ditanami tanaman padi sekarang mencapai 23.283 hektare,” katanya.

Joko Siswanto mengatakan anomali cuaca juga mendukung perkembangbiakan wereng. Selain mengandalkan penyemprotan secara kimiawi, petugas pertanian juga mengimbau petani untuk menggencarkan program refugia atau menanam berbagai bunga yang dapat mengundang hewan predator pemangsa wereng, seperti laba-laba, kepik emas, capung, dan lain sebagainya.

“Kondisi saat ini kan kadang lembap kadang panas. Hal itu justru dapat mempercepat penetasan [telur wereng]. Kalau ini tak diatasi dengan baik, serangan wereng akan mengganas. Dampaknya, produksi padi di Klaten dapat terganggu. Target produksi gabah di tahun ini hampir sama dengan tahun lalu, yakni 425.000 ton. Penyemprotan yang kami lakukan bersifat spot stop [langsung dilakukan penyemprotan di daerah serangan wereng],” katanya.

Sekretaris II Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Klaten, Atok Susanto, mengatakan sukses tidaknya pemberantasan wereng di Klaten tergantung keaktifan penyuluh pertanian dan petani untuk bersama-sama memberantas wereng secara massal.

“Kalau dilakukan sendiri-sendiri tak akan efektif. Di Klaten ini kan sudah memiliki pengalaman terkait serangan wereng yang mengganas beberapa tahun lalu [Pada 2013, areal pertanian yang terserang wereng mencapai 4.893 hektare]. Berkaca dari pengalaman itu, petugas pertanian dan petani harus aktif memberantas, baik menggunakan semprotan ataupun dengan cara alami. Semua cara perlu dilakukan agar serangan wereng tak meluas,” katanya.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.ARTABOGA CEMERLANG, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…