Ilustrasi monyet Gua Kreo Kota Semarang (Youtube.com) Ilustrasi monyet Gua Kreo Kota Semarang (Youtube.com)
Kamis, 13 April 2017 06:22 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

PENATAAN GUNUNGKIDUL
Monyet Curi Lauk Pauk Warga? Saatnya Introspeksi

Penataan Gunungkidul perlu memperhitungkan kawasan khusus untuk pelestarian

Solopos.com, GUNUNGKIDUL — Masifnya pembangunan setelah berkembang pesatnya pariwisata di Kabupaten Gunungkidul membuat habitat monyet terancam. Akibatnya satwa yang dilindungi itu berkeliaran hingga permukiman warga hanya untuk mencari makan.

Baca Juga : PENATAAN GUNUNGKIDUL : Habitat Monyet Terancam Masifnya Pembangunan

Kepala Resort Suaka Marga Satwa Paliyan, Widodo menjelaskan hewan dengan nama latin macaca fascicularis tidak akan sampai ke permukiman warga jika habitatnya tidak terganggu. Dia mencontohkan sejumlah monyet yang berada Kawasan Suaka Marga Satwa Paliyan jarang sekali masuk hingga permukiman warga, pasalnya habitat mereka terjaga.

Hanya saja diakuinya memang sesekali sejumlah monyet berkeliaran di lahan pertanian warga yang berada di sekitar Kawasan Suaka Marga Satwa Paliyan.

“Terlebih disini ketersediaan makanan masih tercukupi karena kami banyak tanam buah-buahan di hutan,” ungkapnya, Rabu (12/4/2017).

Sebelumnya, sejumlah monyet dari perbukitan dan goa di sekitar Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus masuk ke permukiman warga. Hewan itu mengambil makanan baik dari rumah ataupun lahan pertanian warga.

Salah seorang warga, Paijan mengatakan, monyet yang biasanya bersembunyi di daerah perbukitan banyak yang turun untuk mencari makanan. Seperti yang terjadi di kawasan Pantai Nglambor dan Pantai Siung.

Sejumlah monyet kata dia biasanya mengambil makanan apapun yang ada di rumah saat warga sedang lengah ataupun saat ditinggal bekerja. Mulai dari nasi hingga lauk pauk juga habis dilahap hewan itu.

“Kami tidak bisa berbuat banyak karena monyet itu termasuk hewan yang dilindungi, jadi tidak boleh dibasmi,” katanya.

Oleh sebab itu yang dapat dilakukan warga hanya dengan melakukan antisipasi dengan menyinpan makanan di tempat yang lebih aman, seperti alamari. Hal itu lantaran sejumlah monyet secara gesit dapat memanjat melalui celah atap dan memasuki rumah.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…