Ilustrasi makan menggunakan sumpit di Tiongkok (www.shanghaijungle.com) Ilustrasi makan menggunakan sumpit di Tiongkok (www.shanghaijungle.com)
Minggu, 19 Maret 2017 23:45 WIB Travel Share :

8 Etika Unik yang Harus Dipatuhi Turis saat di Tiongkok

Inilah beberapa etika yang harus dipatuhi turis saat berkunjung ke Tiongkok.

Solopos.com, SOLO— Setiap negara mempunyai etika yang berbeda, begitu juga dengan Tiongkok. Negeri Tirai Bambu tersebut punya  etika yang harus dipatuhi oleh setiap orang yang berkunjung ke negara tersebut.

Dilansir Vogue, Jumat (17/3/2017), berikut delapan etika yang harus dipatuhi saat Anda berada di Tiongkok:

Melepas alas kaki
Setiap tamu dianjurkan melepas alas kaki dan menggantinya dengan sandal khusus saat berada di dalam ruangan. Setiap rumah maupun hotel di Tiongkok selalu menyediakan sandal khusus.

Tidak memberi bunga berwarna putih
Bunga warna putih hanya digunakan di pemakaman. Orang Tiongkok beranggapan warna putih merupakan lambang duka.

Jangan memberikan jam dinding
Orang Tiongkok beranggapan memberikan jam dinding adalah tanda kemalangan. Bagi mereka, “to give a clock” (memberi jam dinding), sama dengan “for to die” (untuk mati).

Dahulukan orang yang lebih tua
Di Tiongkok, mendahulukan orang yang lebih tua menjadi hal wajib. Saat makan, orang yang lebih tua akan didahulukan untuk dilayani.

Hindari menancapkan sumpit secara vertikal
Menancapkan sumpit secara vertikal saat makan dinilai tidak sopan, penduduk Tiongkok beranggapan hal itu melambangkan kematian. Mereka berasumsi menancapkan sumpit secara vertikal sama seperti menancapkan dupa yang dibakar untuk orang mati.

Tepat waktu
Jangan pernah  terlambat dalam hal apapun di Tiongkok, tepat waktu menunjukkan tanda hormat.

Jangan bersiul
Di Negara Tiongkok, bersiul dianggap menganggu. Pada malam hari bersiul diasumsikan memanggil hantu.

Jangan menunjuk
Jangan menunjuk saat Anda berbicara dengan penduduk lokal Tiongkok. Mereka beranggapan menunjuk seseorang memperlihatkan ketidakakuran dan kekasaran. (Vega Della Septyanti/JIBI/Solopos.com)

WALK IN INTERVIEW, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



3

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…