Kariyo Semito, lelaki berusia 110 tahun, di rumah sempitnya di pinggir sawah Dukuh Semen RT 002, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Sabtu (11/3/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Kariyo Semito, lelaki berusia 110 tahun, di rumah sempitnya di pinggir sawah Dukuh Semen RT 002, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Sabtu (11/3/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Minggu, 12 Maret 2017 14:40 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Pria Usia 110 Tahun Hidup Sendirian di Gubuk Pinggir Sawah Sragen

Pria berusia 110 tahun hidup sebatang kara di gubuk pinggir sawah di Sragen.

Solopos.com, SRAGEN — Sesosok orang tua tiduran di ranjang kayu usang. Kedua tangannya memegangi radio kecil seraya mencari gelombang kesukaannya.

Kula nuwun!” Suara itu mengejutkan pria lanjut usia (lansia) berumur 110 tahun itu. Kariyo Semito adalah nama laki-laki itu.

Bau pesing menyeruak ketika Solopos.com mendekati lelaki tua itu. Kaus lengan panjang yang kumal seperti beberapa hari tak ganti. Meja kecil di samping ambennya menjadi tempat menaruh peralatan makan dan minum.

“Tidurnya ya di amben ini ditemani radio. Kalau dingin ya berselimut seadanya. Kalau kemulan wong kakehan pikiran [kalau berselimut banyak pikiran],” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (11/3/2017).

Ia tinggal di rumah berdinding gedek berukuran 3 meter x 6 meter yang dibangun warga secara swadaya di tanah kas desa pinggir persawahan di Dukuh Semen RT 002, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Kumis dan jenggot putih menghiasi wajahnya.

Giginya sudah habis. Ia tak bisa berjalan tegak sejak jatuh dari sepda onthel beberapa tahun lalu. Ia harus mengggunakan kruk untuk berjalan. “Kalau tidak bawa tongkat [kruk] tidak bisa ke mana-mana. Tongkat itu yang kinthil [mengikuti] terus. Saya tinggal di rumah ini sudah terima,” ujarnya.

Kebutuhan mandi dan buang hajat dilakukan di toilet masjid kurang dari 100 meter dari gubuk itu. Ia mengaku mengerjakan salat di masjid. Kebutuhan makannya dicukupi cucunya di Semen RT 001.

Setiap hari dikirim dua kali. Selain itu beberapa warga juga sering memberi makan Kariyo. Bahkan beberapa warga dari luar dukuh ada yang memberi pakaian dan perlengkapan tidur lainnya.

Ia masih ingat saat tentara Belanda masuk Sragen. Pada saat itu ia sudah memiliki seorang anak. Kala itu, ia bersama warga lainnya membuat lubang atau jeglongan untuk perangkap prajurit penjajah itu di Sragen.

Pada saat Jepang masuk Sragen, 1942, ia sudah menikahkan anak pertamanya. Kariyo memiliki sembilan istri dan 13 anak. Salah satu cucunya sudah berumur 40-an tahun.

Ia mengaku tak memiliki resep umur panjang, hanya pasrah kepada Sang Khalik. Merokok paling disukainya, terutama rokok kretek. Sebenarnya anak-anaknya perhatian kepada Kariyo. Tetapi Kariyo memilih hidup sendirian dan tidak mau menyusahkan anak-anaknya.

“Mati urip [hidup] yang penting ada di rumah sendiri. Mangan ora mangan ya tetep neng ngomahe dewe [makan tidak makan ya tetap di rumah sendiri],” imbuhnya.

Selain Kariyo Semito, masih ada dua orang lanjut usia lain yang hidup menumpang di rumah tetangga di Desa Sribit. Hal itu diungkapkan Kepala Desa Sribit, Sutaryo. Dua orang tua tersebut adalah Mbah Semi, 65, di Dukuh Tambak RT 012, Desa Sribit dan Mbah Towiryo, 70, Dukuh/Desa Sribit RT 005.

Mbah Semi menumpang di pekarangan tetangga. Untuk makan saja mengandalkan bantuan dari tetangga sekitar. Berbeda dengan Mbah Towiryo, kendati usianya sudah lanjut, ia masih bisa bekerja menghidupi dirinya sendiri.

“Saya sudah berusaha mencarikan bantuan ke UPTPK [Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan], salah satunya bedah rumah tidak layak huni. Tetapi persyaratan dari UPTPK ternyata tidak bisa bila status tanahnya bukan milik pribadi. Kalau milik kas desa masih maklum. Hla ini milik cucunya dan cucunya itu sudah rela untuk ditempati Mbah Kariyo tetapi dari UPTPK tetap tidak bisa,” ujar Sutaryo.

Dia menjelaskan banyak anak Mbah Kariyo yang mau memperhatikan tetapi Mbah Kariyo sendiri yang tidak mau. Rumah yang sekarang dihuni Mbah Kariyo itu, kata dia, juga tanah kas desa dan rumahnya dibangunkan secara swadaya oleh warga sekitar dan keluarganya.

Furniture Export Company Needs Urgently, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL JUAL DAIHATSU Terios’09 TX AD-Solo,NomerCantik,An/Sendiri,Istimewa,Harga Nego,Hub:08…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Kemanusiaan Keluarga Polk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/9/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Persekusi terhadap warga Rakhine etnis Rohingya di Myanmar…