Ginanjar Rahmawan Dosen Kewirausahaan dan Bisnis UMKM di STIE Surakarta (Istimewa) Ginanjar Rahmawan Dosen Kewirausahaan dan Bisnis UMKM di STIE Surakarta (Istimewa)
Senin, 27 Februari 2017 00:10 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id.

Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan berita palsu atau hoax. Masyarakat Solo, Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Wonosobo secara serentak menyatakan perang melawan hoax.

Virus hoax sebenarnya tidak hanya melanda berita tentang politik, namun juga menyangkut pemasaran atau marketing. Dalam mix marketing atau bauran pemasaran dikenal ada empat komponen pemasaran, yaitu produk, harga, distribusi, dan promosi.

Empat komponen tersebut merupakan kesatuan dalam pemasaran. Bukan hanya promosi yang merupakan pemasaran. Dalam empat komponen tersebut juga sering terjadi hoax yang dilakukan pebisnis untuk menjual produk atau jasa mereka.

Seorang pemasar produk membuat berita yang tidak benar mengenai produk atau jasa yang dijual. Hal ini akan membahayakan konsumen yang mudah percaya. Biasanya konsumen merasa dirugikan setelah mereka mengonsumsi/membeli produk atau jasa hasil informasi yang ternyata hoax.

Apa saja hoax dunia marketing? Saya menjabarkan dalam empat jenis hoax marketing, yaitu hoax pada produk/jasa, hoax pada harga yang ditawarkan, hoax pada pendistribusiannya, dan hoax pada acara promosinya.

Hoax yang sering dilakukan pebisnis dalam produk di antaranya membuat label produk yang tidak sesuai dengan produk tersebut. Beberapa praktik marketing dalam pelabelan ada yang mencantumkan informasi yang tidak sesuai dengan produknya, misal informasi mengenai berat neto, informasi mengenai kandungan zat pada produk, bahkan ada yang menampilkan tanggal kedaluwarsa yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Beberapa barang yang saya temui di toko terkadang tanggal kedaluwarsanya terlampau lama, padahal produk tersebut hanya bertahan sepekan. Menurut produsen ketika saya tanyai, hal tersebut untuk memberikan rasa aman kepada konsumen ketika membeli produk.

Pebisnis juga ada yang memberikan informasi yang tidak benar yang menjadikan produk atau jasa seolah-olah baru, seolah-oleh memiliki afiliasi dengan suatu organisasi atau event tertentu, dan seolah-olah berasal dari suatu tempat.

Sebagai contoh, suatu produk menampilkan logo event yang bergengsi. Tujuannya menginformasikan produk tersebut berafiliasi dengan event, namun sesungguhnya sama sekali bukan sponsor resmi event itu.

Konsumen akan punya persepsi produk tersebut berkelas karena berafiliasi dengan suatu event besar. Ini merupakan hoax marketing. Hoax mengenai harga modusnya ada empat. Pertama, harga produk atau jasa tidak sesuai dengan tulisan yang tercantum pada price tag.

Kedua, membuat harga khusus/diskon yang palsu. Ketiga, memberikan syarat dan ketentuan yang sangat rumit. Keempat, harga yang ditutup-tutupi dalam informasi. Untuk kasus yang pertama sering terjadi saat kita membeli barang dan harga tertera di rak ternyata kadang-kadang berbeda dengan harga di mesin kasir.

Pemalsuan diskon juga terkadang kita alami. Diskon diberikan hanya untuk produk yang merupakan barang lama dan terkadang sebelum didiskon, harga dinaikkan terlebih dahulu.

Baca: Tak Sesuai Kenyataan

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…