Ilustrasi bencana alam angin kencang. (JIBI/Harian Jogja/Dok.) Ilustrasi bencana alam angin kencang. (JIBI/Harian Jogja/Dok.)
Rabu, 22 Februari 2017 06:40 WIB JIBI/Harian Jogja/Newswire Kota Jogja Share :

MITIGASI BENCANA
BNPB Dorong Perguruan Tinggi Kembangkan Peralatan Kebencanaan

UGM merupakan salah satu perguruan tinggi yang telah berkontribusi mendukung pengembangan industri kebencanaan.

Solopos.com, JOGJA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana mendorong perguruan tinggi mendukung pengembangan industri peralatan kebencanaan seiring peningkatan potensi bencana di Indonesia.

“Kami berharap perguruan tinggi ikut berpartisipasi mendorong pertumbuhan industri kebencanaan di Indonesia,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei saat memberikan kuliah umum “Penanggulangan Bencana dan Tantangannya di Indonesia” di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (21/2/2017).

Menurut Willem, seperti dikutip Antara, Selasa, Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu perguruan tinggi yang telah berkontribusi mendukung pengembangan industri kebencanaan. Melalui kerja sama UGM dan BNPB , “Landslide Early Warning System (LEWS)” berhasil diluncurkan sebagai instrumen yang sangat membantu pemantauan sekaligus peringatan dini terhadap bencana longsor.

BNPB dan UGM telah memasang instrumen sistem peringatan dini tersebut di 17 daerah Indonesia. Beberapa diantaranta adalah Kerinci, Cianjur, Purworejo, Magelang, Lombok Timur, Lombok Tengayh, Lombok Barat, Bantaeng, Kota Manado, Maluku Tengah, Buru, Kota Ambon, Sikka, Kota Jayapura, Nabire, Teluk Wondama, serta Manokwari.

“LEWS merupakan penemuan serta prestasi luar biasa UGM yang perlu ditiru perguruan tinggi lainnya,” kata dia.

Menurut dia, terdapat tiga poin utama dalam penanggulangan bencana yakni menjauhkan masyarakat dari bencana, menjauhkan bencana dari masyarakat, serta hidup secara harmonis dengan bencana.

“Poin ketiga yakni hidup berdampingan dengan bencana tentu membutuhkan upaya mitigasi yang baik serta peralatan penanggulangan bencana yang memadai,” kata dia.

Selain berkontribusi menghasilkan penemuan yang implementatif untuk mendukung industri kebencanaan, menurut Willem, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam penguatan kapasitas yang berorientasi pengurangan risiko bencana dalam pelayanan kuliah kerja nyata di tengah masyarakat.

Ia menyebutkan berdasarkan data BNPB sebanyak 148,4 juta warga tinggal di daerah rawan gempa bumi, 5 juta di daerah rawan tsunami, 1,2 juta penduduk di daerah rawan erupsi gunungapi, 63,7 juta jiwa di daerah rawan banjir, serta 40,9 juta jiwa tinggal di daerah rawan longsor.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…