Warga mengambil air Sumur Dandang di kawasan hutan jati Dukuh Sumber RT 006, Desa Cepoko, Sumberlawang, Sragen, Sabtu (18/2/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Warga mengambil air Sumur Dandang di kawasan hutan jati Dukuh Sumber RT 006, Desa Cepoko, Sumberlawang, Sragen, Sabtu (18/2/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Senin, 20 Februari 2017 07:00 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

ASAL USUL
Asale Cepoko dan Kisah Sumur Dandang Sragen

Asal Usul kali ini mengenai sumur dandang Sragen.

Solopos.com, SRAGEN — Pohon jambu alas tua berdiri tegal di lereng bukit areal hutan jati di wilayah Dukuh Sumber, Desa Cepoko, Kecamatan Sumberlawang, Sragen. Di bawah pohon itu terdapat sebuah sumur tua yang tidak pernah mengering kendati di musim kemarau panjang.

Sumur tua itu bernama Sumur Dandang. Sumur yang dikeramatkan warga Desa Cepoko dan dipercaya menjadi bukti sejarah munculnya Desa Cepoko. Ada empat sumber air di wilayah Dukuh Sumber. Selain Sumur Dandang, ada juga Sumur Butuh, sumur Jetis, dan sebuah sendang.

Warga Cepoko memiliki tradisi lisan yang berlangsung secara turun temurun. Tradisi lisan itu berupa cerita rakyat yang diwariskan dari para pendahulu kepada generasi berikutnya sampai sekarang. Hampir setiap orang berusia di atas 50 tahun mengetahui cerita rakyat Cepoko itu.

Kepala Dusun (Kadus) II Cepoko, Goyanto, 62, saat berbincang dengan Solopos.com di Balai Desa Cepoko, Sabtu (18/2/2017), mengisahkan cerita rakyat yang diketahui dari simbahnya. Cerita rakyat itu berawal dari adanya sendang Sumur Dandang itu.

Sumber air itu mengalir membentuk sebuah sungai dengan airnya yang jernih. Pada saat itu hiduplah dua orang sesepuh desa yang memiliki kesaktian, yakni Mbang Anggrong dan Mbah Bareng. Sumur Dandang itu pun ditemukan oleh dua orang itu.

Semula mereka hidup damai dan menikmati aliran air Sumur Dandang itu untuk persawahan dan kebutuhan hidup mereka dan penduduk sekitar. “Sumur itu semula berupa terowongan air ke dalam yang tertutup ijuk. Mbah Anggrong dan Mbah Bareng itu yang membongkar terowongan air itu dan menjadi sumur itu. Mbah Anggrong hidup di daerah hulu sedangkan Mbah Bareng hidup di daerah hilir sungai yang bersumber dari sumur itu. Pada suatu ketika, Mbah Anggrong membendung sungai itu tanpa maksud yang jelas. Mbah Bareng tidak terima,” ujarnya.

Giyanto melanjutkan Mbah Anggrong pun bersabda, “Nek ora ana baya putih lewat bendungan kuwi ora bakal bedah [Kalau tidak ada buaya putih yang lewat, bendungan itu tidak bisa bedah].”

Siasat Mbah Bareng

Akhirnya, Mbah Bareng pun bersiasat. Mbah Bareng membuat buaya putih buatan berbahan pohon pisang. Pohon pisang atau debak itu dihanyutkan ke sungai supaya dikira buaya putih. Sejak itulah, air yang semua penuh kemudian surut karena bendungannya jebol.

“Nah, istilah penuh itu kalau bahasa Jawanya mencep-mencep. Bendungan yang hilang itu berarti ora ana [tidak ada]. Sejak itulah, daerah itu dinamakan sebagai Desa Cepana, dari kata mencep-mencep dadi ora ana. Kemudian lambat laun, nama itu kok tidak sreg kemudian diganti dengan Cepoko,” ujar Giyanto.

Kadus IV Cepoko, Gito Wiyono, 62, menambahkan punden Mbah Anggrong dan Mbah Bareng itu masih ada sampai sekarang. Punden Mbah Anggrong terletak di tengah alas jati sedangkan punden Mbah Bareng terletak di kompleks permakaman warga.

“Setiap Ruwah atau bulan sebelum Bulan Puasa, ada tradisi bancakan di kedua punden itu. Selain itu ada sumber air yang juga dikeramatkan, yakni Sumur Butuh. Air sumur itu dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan orang sakit. Sampai sekarang masih ada ritual bersih desa dan ritual upacara pengantin di areal sumur itu,” tambahnya.

lowongan pekerjaan
CV MUTIARA BERLIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…