David Raditya Saputra menangis saat mengitari peti jenazah ayahnya, Toni Arifin, 34, anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Boyolali yang tewas saat bertugas, Kamis (16/2/2017) malam. (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos) David Raditya Saputra menangis saat mengitari peti jenazah ayahnya, Toni Arifin, 34, anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Boyolali yang tewas saat bertugas, Kamis (16/2/2017) malam. (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Jumat, 17 Februari 2017 21:15 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Tangisan Sang Anak Iringi Kepergian Anggota TRC Boyolali ke Peristirahatan Terakhir

Anggota TRC BPBD Boyolali yang tewas saat menangani bencana banjir dimakamkan Jumat.

Solopos.com, BOYOLALI — Bocah berusia 7 tahun itu menangis sesenggukan saat berjalan mengitari peti jenazah ayahnya, Toni Arifin, 34, anggota Satgas Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali yang meninggal dunia saat bertugas di lokasi bencana banjir, Dukuh Gatak, Desa Banyudono, Kecamatan Banyudono, Kamis (16/2/2017) malam.

Bocah itu bernama David Raditya Saputra. Di belakangnya, bayi berusia 1,5 tahun digendong seorang perempuan juga mengikuti David mengitari peti jenazah warna putih yang sudah ditandu para pria berseragam oranye.

Beberapa pria berseragam oranye yang menandu peti jenazah Toni juga terlihat menangis. Mereka adalah teman-teman seperjuangan Toni yang selama ini mengabdi sebagai pejuang kemanusiaan. Mereka hendak membawa jenazah Toni ke tempat peristirahatan terakhir di Makam Hastonoloyo Sikembang Desa Pusporenggo.

Ratusan pelayat yang didominasi para sukarelawan dari berbagai organisasi termasuk dari Basarnas Surakarta beranjak menuju permakaman. Suasana duka tak jua berlalu meskipun suara sirene mobil ambulans milik PMI Boyolali kian menjauh meninggalkan rumah duka Dukuh Ngrancah RT 004/RW 002, Desa Pusporenggo, Kecamatan Musuk.

Sebagian keluarga menenangkan istri Toni, Heni Karsini, yang masih shock ditinggal pergi sang suami untuk selamanya. Begitu pula Sunarno, 56, ayah Toni. Dengan mata sembap dia tegar menerima ucapan belasungkawa para pelayat.

“Terakhir saya ketemu Toni kemarin siang, dia pamitan berangkat ke kantor, dia hanya bilang sama saya supaya jagain anaknya [David] dulu. Istrinya masih mengajar di sekolahan,” ujar Sunarno.

Saat Toni berangkat, Sunarno tak merasakan firasat apa pun. Namun, dia mendengar Toni juga berpesan kepada pengasuh anak-anak di rumah, “Tulung ewangana momong mbokne ya [Tolong bantu istri saya momong],” ujar dia menirukan ucapan Toni kala itu.

Bagi Sunarno kepergian Toni sangatlah mendadak dan mengejutkan. “Selama menjadi sukarelawan dia selalu pulang dengan kebanggaan. Apalagi saat dikirim ke lokasi longsor di Banjarnegara pada 2014 lalu. Bangga telah bisa membantu atau menolong orang yang terkena bencana. Termasuk tadi malam. Meski pulang tak bernyawa, saya tetap bangga dengan anak saya.”

Sejak tahun 2013, Toni bergabung sebagai anggota TRC BPBD Boyolali. Dia meninggal dunia pada Kamis malam saat proses evakuasi banjir di Banyudono. Aktivitas terakhirnya masih terkenang jelas oleh rekannya, Gembong Suroto.

“Tadi malam pas sama saya. Saat itu saya dan Toni bertukar tugas. Dia baru saja mengevakuasi seorang nenek dari lokasi banjir di Ngancar. Dia bilang masih ada warga dengan seorang bayi di lokasi, akhirnya bergantian,” ujar Gembong.

Seusai mengevakuasi warga, Gembong kaget mendengar kabar yang saat itu masih simpang siur bahwa ada rekannya yang hanyut terbawa arus air. “Ternyata Toni,” tuturnya sedih.

Dia pun shock menemukan Toni sudah terbujur di parit dengan luka parah di beberapa bagian tubuhnya akibat terseret arus banjir. Bagi Gembong, Toni adalah sukarelawan yang luar biasa yang selalu siap berangkat tugas meski bukan pada jam piket.

Gembong ingat betul saat bersama Toni tugas kemanusiaan di Banjarnegara. “Suka, duka, berat atau ringan, saat tugas dia selalu supel dengan sesama sukarelawan,” kata dia.

Kecelakaan air yang menimpa anggota TRC BPBD ini mengundang empati banyak pihak. Wakil Bupati Boyolali, M. Said Hidayat, terlihat melayat pada Jumat pagi. Koordinator Pos Basarnas Surakarta, Amien Yachya, yang juga hadir di permakaman menyampaikan prihatin dengan kejadian yang menimpa Toni.

“Kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi seluruh sukarelawan, kalau mau operasi keamanan diri harus diprioritaskan terlebih dahulu, sebelum menyelamatkan orang lain,” kata Amien.

lowongan kerja
lowongan kerja Nattour, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


2

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…