Ilustrasi Badak bercula satu. (Istimewa/ndtv) Ilustrasi Badak bercula satu. (Istimewa/ndtv)
Jumat, 17 Februari 2017 14:30 WIB Muhammad Rizal Fikri/JIBI/Solopos.com Peristiwa Share :

Di Tempat Ini, Nyawa Badak Lebih Berharga dari Manusia

Taman Nasional Kaziranga di India tak ragu tembak mati seorang pemburu badak.

Solopos.com, GOLAGHAT – Taman Nasional Kaziranga, Golaghat, India, bisa disebut tempat terbaik untuk melakukan konservasi badak bercula satu. Sayangnya, apresiasi tersebut diikuti dengan kontroversi lantaran lebih banyak nyawa manusia melayang di taman nasional tersebut dibandingkan nyawa badak.

Diberitakan BBC, Jumat (10/2/2017), Taman Nasional Kaziranga merupakan tempat tinggal lebih dari 2.400 badak bercula satu. Jumlah tersebut merupakan dua pertiga jumlah hewan tersebut di seluruh dunia. Hal itu merupakan prestasi bidang konservasi taman nasional tersebut, karena menilik 100 tahun ke belakang saat taman nasional itu baru didirikan, tercatat hanya ada puluhan hingga ratusan badak bercula satu yang tersisa.

Prestasi tersebut melahirkan sebuah kontroversi, pengelola taman nasional memberikan para polisi hutan alat dan senjata untuk membunuh pihak-pihak yang dicurigai sebagai pemburu badak. Senjata yang para penjaga bawa biasanya hanya dimiliki anggota militer.

Hal itu didukung oleh pemerintah terkait yang akan melindungi polisi hutan dari dakwaan apapun saat berhasil membunuh pemburu atau terduga pemburu. Salah seorang polisi hutan bernama Avdesh menjelaskan saat bertemu pemburu, mereka diperintahkan untuk menginisiasi tembakan dan memburu para pemburu.

“Iya, iya, kami diperintah untuk menembak mereka. Kapanpun kamu melihat pemburu atau orang mencurigakan di dalam hutan, kami diperintah untuk menembak,” terang Avdesh seperti dikutip BBC.

Avdesh mengaku pernah menembak orang dua kali selama empat tahun bekerja sebagai polisi hutan. Namun tembakan Avdesh tidak membunuh mereka.

Pimpinan Taman Nasional Kazirangan, Satyendra Singh, menegaskan perintah menembak bukan berarti serta merta menembak terduga pemburu. “Pertama selalu ada peringatan, tapi saat mereka melawan, kami harus menembak mereka, kalau perlu membunuh. Perlu juga diadakan usaha menangkap agar bisa diinterogasi,” jelas Satyendra.

Satyendra mengungkapkan selama tiga tahun terakhir ada 50 pemburu dibunuh di dalam hutan. Pada 2014 ada 22 nyawa melayang karena dianggap pemburu. Untuk 2015, lebih banyak manusia tewas di dalam hutan daripada badak. Tahun lalu ada 23 orang dibunuh, sedangkan hanya ada 17 perburuan badak yang berhasil.

Tindakan pencegahan ekstrem ini menuai kontroversi, karena warga lokal, khususnya mereka yang masih hidup bersama suku-suku primitif kerap menjadi korban. Salah satunya menimpa bocah berusia tujuh tahun, Akash Orang, Juli 2016.

Akash waktu itu sedang dalam perjalanan pulang dari pasar. Dia berjalan pulang seperti biasa, namun tanpa sadar Akash memasuki hutan taman nasional yang memang tidak diberi pagar atau plang penanda. Akash bercerita, dia berhenti setelah mendengar teriakan polisi hutan, tanpa mengetahui apa yang terjadi tiba-tiba peluru panas menusuk betis kanannya.

Akash berhasil merangkak pulang dan dilarikan ke rumah sakit yang berjarak lima jam dari rumahnya. Tembakan itu membuat Akash dirawat di rumah sakit selama lima bulan dan melalui beberapa operasi. Namun, hingga keluar dari rumah sakit Akash masih belum bisa berjalan.

lowongan kerja
lowongan kerja Distributor Bahan Bangunan, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



1

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…