Pemandangan Gunung Lawu berselimut awan dilihat dari jalan tembus Tawangmangu, Karanganyar. Foto diambil awal Februari 2017. (Kurniawan/JIBI/Solopos) Pemandangan Gunung Lawu berselimut awan dilihat dari jalan tembus Tawangmangu, Karanganyar. Foto diambil awal Februari 2017. (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Kamis, 16 Februari 2017 23:40 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

PROYEK PANAS BUMI KARANGANYAR
Pemangku Wilayah Gunung Lawu Tolak Eksplorasi

Proyek panas bumi Karanganyar, eksplorasi panas bumi di Gunung Lawu mendapat penolakan dari pemangku wilayah.

Solopos.com, KARANGANYAR — Elemen kepemudaan dan sejumlah pemangku kepentingan di wilayah Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar menolak rencana eksplorasi panas bumi (geothermal) di wilayah itu.

Alasannya, proyek tersebut dinilai mengancam persediaan air, kekayaan religi, dan budaya Gunung Lawu. Pernyataan itu disampaikan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Karanganyar, Aan Shophuanudin, Kamis (16/2/2017).

Dia mengaku sudah berdiskusi dengan sejumlah elemen pemangku wilayah Gunung Lawu di Karanganyar. Mereka menyatakan sikap yang sama, menolak rencana eksplorasi panas bumi.

“Masyarakat sekitar menolak dengan berbagai argumentasi. Yang paling dominan mereka tidak ingin terjadi kerusakan alam, budaya dan tradisi, yang selama ini terjaga di Gunung Lawu,” tutur dia.

Aan mengatakan selama ini Gunung Lawu ibarat gentong air bagi penduduk di sekitarnya. Tidak hanya bagi penduduk Karanganyar, melainkan juga kabupaten lain di sekitarnya.

“Maka ketika dieksplorasi dan dieksploitasi melalui proyek geothermal, banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. Salah satu contoh sederhana yakni berkurangnya simpanan air,” sambung dia.

Aan melanjutkan penduduk setempat juga ingin mewariskan nilai-nilai kearifan lokal Gunung Lawu kepada anak cucu mereka. “Ada nilai yang harus kami jaga sebagai warisan anak cucu,” kata dia.

Aan mengakui langkah pemerintah mencanangkan proyek panas bumi di Gunung Lawu tidak serta merta. Proyek tersebut pasti sudah melalui proses kajian mendalam dari berbagai aspek.

Maryono, warga Jaten, Karanganyar, yang juga pencinta alam, meyakini eksplorasi panas bumi di Gunung Lawu akan mengurangi sumber air. “Kenapa juga harus di Gunung Lawu? Kenapa tidak di Gunung Merapi saja yang jalan panas buminya lebih terbuka. Lagi pula di Gunung Merapi kan juga belum ada eksplorasi panas bumi,” ujar dia.

Sebagai warga asli Bumi Intanpari, Maryono khawatir proyek eksplorasi panas bumi akan merusak situs cagar budaya, tradisi masyarakat, maupun peninggalan-peninggalan bersejarah. “Disinyalir lokasi yang mau dibor itu kan di daerah Mongkrang, di sisi atas dari Tlogodringo, Gondosuli, Tawangmangu. Di sekitar situ kan ada situs. Bisa-bisa nanti rusak atau hilang,” sambung dia.

Lokasi lain yang kabarnya akan dibor, menurut Maryono, adalah Pablengan. “Sikap saya dan kawan-kawan pencinta alam tegas menolak proyek ini,” tegas dia.

Terpisah, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis, enggan menanggapi rencana eksplorasi panas bumi di Gunung Lawu. Sebagaimana diinformasikan, proyek pengelolaan wilayah kerja panas bumi Gunung Lawu senilai 165 megawatt sudah dilelang dan dimenangi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Kementerian Lingkungan Hidup juga sudah memberi izin eksplorasi  panas bumi di Gunung Lawu itu.

 

lowongan kerja
lowongan kerja (SPG/SPB), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



1

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…