Rabu, 15 Februari 2017 13:48 WIB M.G. Noviarizal Fernandez/JIBI/Bisnis Politik Share :

Aulia Pohan, Besan SBY, Pilih Bungkam Soal Cerita Antasari Azhar

Aulia Pohan, besan SBY yang juga disebut dalam pengakuan Antasari Azhar, memilih bungkam.

Solopos.com, JAKARTA — Besan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Aulia Pohan, memilih bungkam perihal dugaan rekayasa kasus yang menjerat Antasari Azhar terjadi setelah dia ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Aulia Pohan turut memberikan suara dalam Pilkada Jakarta 2017 di TPS 06, Kelurahan Rawa Barat, Jakarta Selatan, Rabu (15/2/2017). Seusai melakukan pencoblosan, Aulia Pohan langsung meninggalkan TPS. Namun langkahnya tersendat setelah awak media ingin mewawancarai dirinya.

Meski terus diberondong dengan berbagai pertanyaan, dia memilih untuk bungkam sambil terus berjalan menuju ke rumahnya yang berjarak sekitar 20 meter dari TPS. “Saya ini sudah pensiun masih ditanya-tanya lagi. Tanyalah ke SBY,” ujar mantan petinggi Bank Indonesia itu sebelum memasuki kediamannya.

Sebelumnya, Antasari Azhar menceritakan bahwa dia pernah didatangi oleh CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo di rumah Antasari pada suatu malam pada Maret 2009. Menurut Antasari, kedatangan Hary diperintahkan oleh seseorang di Cikeas untuk meminta Antasari agar tidak menahan Aulia Pohan yang ketika itu terseret kasus korupsi.

Seseorang di Cikeas yang dimaksudkannya adalah Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Hary diutus oleh Cikeas, beliau minta agar saya tidak menahan Aulia Pohan,” ucap Antasari.

Menurut Antasari, mendengar permintaan itu, dia menolaknya dengan alasan hal itu melanggar standar prosedur operasi KPK. Namun, Hary memperingatkannya. Baca juga: Antasari Sebut SBY Utus Hary Tanoe Minta Aulia Pohan Tak Ditahan.

“Hary bilang, ‘kalau saya [Hary] enggak bisa penuhi target, bagaimana saya [Hary] laporan? Saya [Hary] bisa ditendang dari Cikeas. Nanti keselamatan Bapak bagaimana? Bapak hati-hati’,” kata Antasari menirukan perkataan Hary Tanoe.

SBY bereaksi dan menuding ucapan Antasari Azhar yang mengaitkan dirinya dengan dugaan rekayasa kasus pembunuhan Nazarudin Zulkarnaen itu merupakan serangan politis dan pembunuhan karakter, yang direstui kekuasaan.

“Saya yakin apa yg dilakukan Antasari tidak mungkin tanpa blessing dari kekuasaan. Para penguasa hati-hati gunakan kekuasana jangan main api terbakar nanti. Ingat rakyat dan takut pada Tuhan karena kalau sewenang-wenang, keadilan Tuhan akan datang,” ujarnya.

Menurutnya, tudingan bahwa dirinya seolah-olah sabagai inisiator dari kasus hukum yang menjerat Antasari tidak benar, tanpa dasar dan merupakan tudingan liar karena dia tidak memilki niat dan pikiran untuk mengorbankan Antasari.

“Kejahatan dia tidak ada hubungannya dengan saya dan jabatan saya, dan jabatan dia dulu. Saya tidak gunakan kekuasaan untuk mencampuri penegakan hukum demi keepntingan saya,” tambahnya.

Karena itu dia berharap polisi bisa melakukan gelar perkara dan membuka kasus Antasari. Hendaknya pula para penyidik, penuntut umum serta hakim, termasuk mantan Kapolri dan Jaksa Agung yang menjabat kala itu, untuk bersuara.

“Ungkap semua fakta dan kebenaran dengan gamblang. Tolong bapak-bapak critakan kebenaran apa adanya jangan takut dan semoga mereka tidak tergoda dengan iming-iming jabatan dan uang untuk melacurkan kebenaran biar rakyat Indonesia tahu apa yang terjadi,” tuturnya.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…